Opini
25 Sep 2026
Bagi orang yang tidak pernah hidup di pesantren, pemandangan seorang santri mencium tangan kiai berkali-kali mungkin terlihat berlebihan. Begitu pula ketika para santri berebut meminum sisa air dari gelas gurunya atau berusaha mendapatkan doa dan rida sang kiai.Pertanyaannya sederhana: mengapa mereka melakukan itu?Jawabannya sering kali hanya satu: barokah.Bagi sebagian orang, barokah mungkin terdengar seperti sesuatu yang mistis, tidak terukur, bahkan sulit diterima oleh nalar modern. Tetapi bagi santri, barokah bukan sekadar istilah keagamaan. Ia adalah cara pandang dalam menjalani kehidupan.Di sinilah kita perlu berhenti sejenak.Jangan-jangan selama ini kita terlalu cepat menyebut sesuatu sebagai “mistis” hanya karena kita belum memahami cara kerjanya.Barokah Bukan Sekadar Banyak, tetapi Bertambah BaikSecara sederhana, barokah sering dipahami sebagai bertambahnya kebaikan. Imam al-Ghazali menggunakan istilah ziyadat al-khair, bertambahnya kebaikan.Karena itu, barokah tidak selalu identik dengan banyaknya harta, panjangnya usia, atau besarnya jabatan.Seseorang bisa memiliki harta yang tidak terlalu banyak, tetapi kehidupannya cukup dan bermanfaat. Seseorang mungkin tidak hidup sangat panjang, tetapi karya dan ilmunya dikenang banyak orang.Di situlah orang pesantren mengatakan: “Itu barokah.”Barokah dengan demikian lebih dekat kepada persoalan kualitas manfaat daripada sekadar kuantitas.Dan menariknya, cara pandang semacam ini justru menjadi kritik terhadap logika kehidupan modern yang sering mengukur keberhasilan hanya dari angka: berapa uangnya, berapa pengikutnya, berapa jabatannya, berapa banyak hartanya.Pesantren menawarkan ukuran yang berbeda:Bukan hanya “berapa banyak yang kita miliki?”, tetapi “berapa banyak kebaikan yang lahir dari apa yang kita miliki?”Mengapa Santri Menghormati Kiai?Di sinilah tradisi ta’dzim kepada guru perlu dipahami secara lebih serius.Santri tidak menghormati kiai semata-mata karena status sosial. Di dalam tradisi pesantren, guru dipandang sebagai orang yang membawa ilmu, sanad keilmuan, keteladanan, dan nilai-nilai agama.Mencium tangan, meminta doa, membantu guru, menjaga adab, dan berusaha memperoleh rida guru merupakan bagian dari pendidikan moral.Secara sosial, tradisi tersebut juga memiliki fungsi yang sangat kuat.Ketika seorang santri belajar merendahkan ego di hadapan gurunya, ia sedang belajar bahwa ilmu membutuhkan kerendahan hati.Ketika ia membantu gurunya, ia belajar tentang pengabdian.Ketika ia meminta doa, ia belajar bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan dirinya sendiri.Dengan demikian, barokah bukan hanya sesuatu yang “dicari”, tetapi juga membentuk cara seseorang bersikap.Filsafat Ilmu dan BarokahJika ingin membaca konsep barokah melalui perspektif filsafat ilmu, kita dapat melihatnya dari beberapa sisi.Secara metafisik, barokah berhubungan dengan keyakinan terhadap sesuatu yang tidak seluruhnya dapat ditangkap oleh indra. Bagi seorang Muslim, sumber segala keberkahan pada akhirnya adalah Allah SWT.Ini merupakan wilayah iman.Secara ontologis, barokah dipahami sebagai keberadaan kebaikan yang dirasakan dalam kehidupan. Ia dapat dimaknai melalui ketenangan, kebermanfaatan ilmu, hubungan sosial yang baik, kecukupan, atau hadirnya kebaikan yang terus berkembang.Namun, bentuk-bentuk tersebut tidak boleh disederhanakan seolah-olah semuanya merupakan bukti empiris bahwa “barokah” dapat diukur seperti berat badan atau pendapatan.Di sinilah pentingnya kehati-hatian akademik.Barokah memiliki dimensi spiritual yang melampaui pengukuran empiris, tetapi dampak sosial dan psikologis dari keyakinan terhadap barokah dapat dikaji secara rasional.Barokah dan Psikologi Kerendahan HatiCoba kita lihat dari sisi yang lebih sederhana.Seorang santri yang percaya bahwa ilmu membutuhkan rida guru akan berusaha menjaga perilakunya. Ia belajar menghormati, mendengar, tidak sombong, dan tidak merasa paling pintar.Sikap tersebut memiliki konsekuensi sosial.Orang yang terbiasa menghormati orang lain akan lebih mudah membangun hubungan. Orang yang memiliki rasa syukur cenderung tidak menjadikan kehidupan semata-mata sebagai perlombaan kepemilikan.Dengan demikian, keyakinan terhadap barokah dapat menjadi mekanisme pembentukan karakter.Inilah salah satu sisi rasional yang sering luput ketika barokah hanya disebut sebagai sesuatu yang mistis.Barokah tidak harus dipahami sebagai “energi gaib” yang dapat dibuktikan dengan alat ukur tertentu. Ia dapat dipahami sebagai konsep spiritual yang memberi makna pada perilaku, membentuk etika, dan mengarahkan manusia kepada kebaikan.Ketika Barokah Berhadapan dengan Logika ModernMasalahnya, masyarakat modern sering kali hanya percaya kepada sesuatu yang dapat dihitung.Kesuksesan diukur dari rekening. Popularitas diukur dari jumlah pengikut. Pendidikan diukur dari gelar. Keberhasilan diukur dari jabatan.Lalu pesantren datang membawa pertanyaan yang berbeda:Bagaimana jika sesuatu yang paling penting dalam hidup justru tidak selalu dapat dihitung?Ketenangan tidak selalu memiliki angka.Keikhlasan tidak memiliki satuan.Rida orang tua tidak dapat ditimbang.Ketulusan guru tidak dapat dimasukkan ke dalam tabel statistik.Demikian pula barokah.Ia berada pada wilayah makna yang tidak selalu dapat disederhanakan menjadi angka.Tetapi tidak dapat diukur bukan berarti tidak memiliki arti.Barokah sebagai Kritik terhadap KeserakahanMenurut saya, di sinilah barokah memiliki relevansi yang sangat kuat dengan kehidupan modern.Orang yang mengejar barokah seharusnya tidak hanya bertanya tentang berapa banyak, tetapi juga untuk apa.Harta yang banyak tetapi membawa kehancuran keluarga tentu berbeda dengan harta yang cukup dan membawa manfaat.Ilmu yang tinggi tetapi membuat seseorang sombong tentu berbeda dengan ilmu yang membuatnya semakin rendah hati.Jabatan yang tinggi tetapi digunakan untuk kepentingan diri sendiri tentu berbeda dengan jabatan yang digunakan untuk melayani masyarakat.Karena itu, barokah sesungguhnya menawarkan sebuah etika:jangan hanya mengejar pertambahan, tetapi kejarlah pertambahan kebaikan.Inilah yang membuat konsep barokah tetap relevan di tengah kehidupan modern.Barokah Bukan Alasan untuk Berhenti BerusahaAda satu hal yang juga penting.Mengatakan seseorang sukses karena barokah bukan berarti meniadakan kerja keras.Santri tetap harus belajar.Guru tetap harus mengajar.Pedagang tetap harus berdagang.Petani tetap harus bekerja.Seorang profesional tetap harus meningkatkan kompetensinya.Barokah bukan alasan untuk bermalas-malasan.Justru dalam tradisi pesantren, kerja keras dan tawakal berjalan bersama.Manusia berusaha semaksimal mungkin, kemudian menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah.Karena itu, ketika seorang santri mengatakan, “Saya ingin ilmu yang barokah,” sebenarnya ia sedang mengatakan sesuatu yang sangat dalam:“Saya tidak hanya ingin tahu, saya ingin ilmu itu menjadi kebaikan dalam hidup saya.”Pada Akhirnya, Barokah adalah Cara Memandang KehidupanMungkin inilah alasan mengapa tradisi barokah tetap bertahan di pesantren.Ia bukan sekadar cerita tentang mencium tangan kiai atau meminum sisa air guru.Di balik tradisi tersebut terdapat sebuah pandangan hidup: bahwa ilmu membutuhkan adab, keberhasilan membutuhkan syukur, usaha membutuhkan doa, dan manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri.Apakah dimensi metafisik barokah dapat dibuktikan dengan metode empiris?Itu adalah pertanyaan lain.Sebab tidak semua wilayah iman dapat dipaksa masuk ke dalam laboratorium.Namun, apakah keyakinan terhadap barokah dapat dikaji secara rasional dari dampaknya terhadap perilaku, karakter, hubungan sosial, dan orientasi hidup?Tentu saja bisa.Dan mungkin di situlah kita menemukan pelajaran penting dari pesantren.Barokah bukan sekadar tentang mendapatkan lebih banyak. Barokah adalah tentang membuat apa yang kita miliki menjadi lebih berarti.Pada akhirnya, mungkin pertanyaan terpenting bukan:“Apakah barokah itu mistis atau logis?”Tetapi:“Untuk apa ilmu, harta, usia, jabatan, dan kehidupan yang kita miliki jika semuanya tidak melahirkan kebaikan?”Sebab dalam tradisi pesantren, keberhasilan bukan hanya ketika seseorang menjadi besar.Keberhasilan adalah ketika kebesarannya membawa manfaat.Dan mungkin itulah makna terdalam dari barokah.
Dr. A. M. Najich Syamsuddini, S.A, S.H, M.H, M.Pd
34