RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Opini Karya Guru & Asatidz

OVERTHINKING: Kenapa Gen Z Rentan Terjebak Overthinking?

Putri Erika, S.Psi
Putri Erika, S.Psi Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
12 September 2026 23 dibaca 0 disukai 1 komentar

Overthinking: Ketika Pikiran Tidak Mau Berhenti

“Otak capek, tapi tombol pause-nya nggak ketemu.”

Pernah nggak, kamu sudah rebahan, lampu kamar mati, HP sudah ditaruh… tapi tiba-tiba otak malah buka 100 tab sekaligus?

“Besok gimana, ya?”

“Kayaknya tadi aku salah ngomong deh…”

“Dia kenapa cuma read chat-ku?”

“Kalau aku gagal gimana?”

“Harusnya tadi aku jawabnya begini…”

Dan yang paling ngeselin: kejadian lima menit lalu bisa dipikirin sampai lima hari ke depan. 😭

Selamat datang di dunia overthinking—ketika tubuh sudah ingin istirahat, tetapi pikiran justru bilang, “Bentar, kita bahas semuanya dulu.”

🧠 Sebenarnya, Apa Itu Overthinking?

Overthinking bukan sekadar “kebanyakan mikir”.

Berpikir itu normal. Bahkan penting. Kita perlu berpikir sebelum mengambil keputusan, menyelesaikan masalah, atau mempertimbangkan konsekuensi.

Masalahnya muncul ketika pikiran terus berputar pada sesuatu tanpa menghasilkan solusi yang jelas.

Ibaratnya seperti naik treadmill:

jalan terus → capek → keluar keringat → tetapi tetap di tempat.

Begitu juga overthinking.

Kita merasa sedang mencari jawaban, padahal sebenarnya hanya mengulang pertanyaan yang sama dengan versi yang berbeda.

🔄 “Aku Cuma Lagi Mikir, Kok…”

Nah, ini bagian yang sering bikin kita nggak sadar.

Overthinking kadang menyamar sebagai sikap “hati-hati”.

Misalnya:

“Aku cuma mau memastikan semuanya aman.”

Padahal sebenarnya kita sedang membayangkan 27 kemungkinan buruk.

Atau:

“Aku cuma ingin tahu kenapa dia berubah.”

Padahal chat terakhir sudah dibaca berkali-kali sambil menganalisis tanda baca. 😭

“Oke.”

Biasa saja?

Atau…

“Oke.” = dia marah?

“Oke…” = dia kecewa?

“okee” = masih baik-baik saja?

Otak Gen Z: Sherlock Holmes mode ON. 🕵️‍♀️

📱 Kenapa Gen Z Rentan Terjebak Overthinking?

Salah satunya karena kita hidup di era yang serba cepat dan penuh informasi.

Scroll media sosial → melihat pencapaian orang lain.

Buka chat → menunggu balasan.

Lihat story → bertanya-tanya siapa yang melihat.

Bandingkan diri → merasa tertinggal.

Belum lagi tekanan sekolah, pertemanan, keluarga, masa depan, ekspektasi diri, sampai pertanyaan klasik:

“Nanti aku mau jadi apa?”

Informasi yang terlalu banyak membuat otak sulit benar-benar “offline”.

Kita bisa berada di kamar sendiri, tetapi pikiran tetap keliling ke mana-mana.

🚨 Coba Cek: Kamu Sedang Overthinking atau Memang Sedang Memecahkan Masalah?

Bedanya sederhana.

Problem solving:

“Aku punya masalah. Apa yang bisa aku lakukan?”

Kemudian kita mencari pilihan → memilih tindakan → mencoba → mengevaluasi.

Overthinking:

“Aku punya masalah. Gimana kalau begini? Kalau begitu? Kalau gagal? Kalau orang lain kecewa? Kalau ternyata semuanya salah?”

Terus dipikirkan…

dan dipikirkan lagi…

tetapi tidak ada tindakan.

Jadi, salah satu pertanyaan penting ketika pikiran mulai berisik adalah:

“Apakah aku sedang mencari solusi, atau hanya mengulang kekhawatiran?”

Boom. 💥

Pertanyaan sederhana, tetapi bisa membantu kita menyadari pola pikiran sendiri.

🎯 Cara Mengelola Overthinking

Tenang, solusinya bukan “jangan mikir.”

Kalau semudah itu, semua orang sudah selesai overthinking sejak lama. 😭

Yang lebih realistis adalah belajar mengatur cara kita merespons pikiran.

1. 📝 Bedakan Fakta dan Asumsi

Misalnya:

Fakta:

“Temanku belum membalas chat selama tiga jam.”

Asumsi:

“Dia pasti marah sama aku.”

Nah, lihat bedanya.

Otak sering memperlakukan asumsi seolah-olah itu fakta.

Padahal…

belum tentu.

Biasakan bertanya:

“Apa yang benar-benar aku tahu, dan apa yang hanya aku takutkan?”

2. ⏸️ Beri Otak Waktu untuk “Pause”

Ketika pikiran mulai muter-muter, jangan langsung dilawan.

Coba berhenti sebentar.

Tarik napas perlahan.

Perhatikan apa yang sedang kamu rasakan.

Kemudian katakan kepada diri sendiri:

“Aku sedang khawatir. Tapi rasa khawatir bukan berarti sesuatu yang buruk pasti terjadi.”

Kita tidak harus mempercayai setiap pikiran yang muncul di kepala.

Karena pikiran hanyalah pikiran. Bukan selalu kenyataan.

3. 🎯 Fokus pada Hal yang Bisa Kamu Kendalikan

Ada banyak hal dalam hidup yang berada di luar kendali kita.

Kita tidak bisa mengontrol:

  • apa yang orang lain pikirkan,
  • kapan seseorang membalas chat,
  • bagaimana orang lain menilai kita,
  • hasil dari semua usaha kita,
  • atau apa yang akan terjadi besok.

Tetapi kita bisa mengontrol:

  • bagaimana kita merespons,
  • apa yang kita lakukan hari ini,
  • bagaimana kita berbicara kepada diri sendiri,
  • dan langkah kecil yang bisa kita ambil.

Daripada bertanya:

“Bagaimana kalau semuanya gagal?”

Coba ubah menjadi:

“Apa satu hal kecil yang bisa aku lakukan sekarang?”

Small step is still a step. 🌱

4. 📵 Jangan Jadikan HP sebagai “Teman Overthinking”

Kadang kita sedang overthinking…

lalu buka Instagram.

Lihat kehidupan orang lain.

Lanjut TikTok.

Lihat orang yang hidupnya kelihatan sempurna.

Lalu mulai membandingkan diri.

Akhirnya:

overthinking → scrolling → comparison → insecure → overthinking lagi.

Loop-nya muter terus. 🔄

Sesekali beri otak waktu tanpa notifikasi.

Bukan berarti harus menjadi manusia anti-media sosial.

Cukup belajar berkata:

“Aku yang mengendalikan HP-ku, bukan sebaliknya.”

🔍 “AKU OVERTHINKING NGGAK, SIH?”

Coba cek dirimu.

QUIZ REFLEKSI: SEBERAPA SERING PIKIRANMU OVERTHINKING?

Petunjuk: Pilih jawaban yang paling menggambarkan dirimu dalam beberapa waktu terakhir.

1. Ketika seseorang belum membalas chat, aku…

A. Biasa saja, mungkin dia sedang sibuk.

B. Sesekali mengecek HP.

C. Mulai bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan.

D. Membuat banyak kemungkinan di kepala tentang apa yang terjadi.

2. Ketika melakukan kesalahan kecil, aku…

A. Mengakuinya dan mencoba memperbaikinya.

B. Kepikiran sebentar.

C. Sering mengingatnya kembali.

D. Memutar kejadian tersebut berkali-kali dan membayangkan berbagai kemungkinan.

3. Ketika memikirkan masa depan, aku…

A. Membuat rencana yang bisa dilakukan.

B. Kadang merasa khawatir.

C. Sering memikirkan kemungkinan buruk.

D. Sulit berhenti memikirkan “bagaimana kalau…” sampai merasa lelah.

4. Saat melihat teman mencapai sesuatu, aku…

A. Ikut senang dan menjadikannya inspirasi.

B. Sesekali membandingkan diri.

C. Mulai merasa tertinggal.

D. Terus membandingkan hidupku dengan hidup mereka.

5. Saat akan menghadapi sesuatu yang penting, pikiranku…

A. Fokus mempersiapkan diri.

B. Sedikit tegang.

C. Membayangkan beberapa kemungkinan.

D. Membayangkan begitu banyak skenario sampai sulit fokus pada persiapan.

6. Saat malam sebelum tidur…

A. Aku bisa cukup mudah mengalihkan pikiran dan beristirahat.

B. Kadang memikirkan kejadian hari itu.

C. Sering teringat masalah atau percakapan tertentu.

D. Pikiran terasa ramai dan sulit berhenti memikirkan berbagai hal.

📊 CARA MEMBACA HASIL

A = 1 poin

B = 2 poin

C = 3 poin

D = 4 poin

🌱 6–10 poin — “Pikiranmu Cukup Terkelola”

Kamu tampaknya cukup mampu membedakan kekhawatiran dengan fakta dan mengarahkan pikiran pada hal yang bisa dilakukan.

Tetap pertahankan kebiasaan positif tersebut.

🌤️ 11–17 poin — “Mulai Waspada”

Sesekali kamu bisa terjebak dalam pikiran yang berulang. Coba mulai memperhatikan kapan overthinking biasanya muncul.

Kenali pemicunya dan cari cara untuk mengalihkan perhatian pada tindakan yang lebih membantu.

🌧️ 18–24 poin — “Pikiran Lagi Ramai”

Jawabanmu menunjukkan bahwa kekhawatiran dan pikiran berulang cukup sering muncul.

Ini bukan diagnosis dan bukan berarti ada sesuatu yang “salah” dengan dirimu.

Anggap hasil ini sebagai alarm untuk lebih memperhatikan kondisi diri.

Jika pikiran yang terus-menerus mengganggu membuat aktivitas sehari-hari, belajar, tidur, atau hubungan dengan orang lain terasa terganggu, jangan memendamnya sendirian. Ceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya atau guru BK/konselor sekolah.

⚡ 5 MENIT RESET: SAAT OTAK LAGI “BERISIK”

Tidak perlu menunggu sampai pikiran benar-benar tenang.

Coba 5-Minute Overthinking Reset.

⏱️ MENIT 1 — STOP

Berhenti sejenak dari aktivitas.

Letakkan HP.

Tarik napas perlahan.

Sadari:

“Oke, pikiranku sedang ramai.”

Tidak perlu memaksa pikiran hilang.

Cukup sadari bahwa pikiran itu sedang muncul.

⏱️ MENIT 2 — TULIS

Ambil kertas atau notes HP.

Tulis:

“Apa yang sedang aku pikirkan?”

Tulis semuanya secara singkat.

Contoh:

“Aku takut besok presentasiku jelek.”

Dengan menulis, pikiran yang tadinya berputar di kepala menjadi sesuatu yang bisa kita lihat.

⏱️ MENIT 3 — CEK FAKTA

Tanyakan:

“Apa yang benar-benar aku tahu?”

Contoh:

❌ “Semua orang pasti menertawakanku.”

✅ “Aku belum tahu bagaimana respons mereka.”

❌ “Aku pasti gagal.”

✅ “Aku belum melakukan presentasinya.”

Tujuannya bukan berpikir positif secara palsu.

Tujuannya adalah berpikir lebih realistis.

⏱️ MENIT 4 — PILIH SATU LANGKAH

Tanyakan:

“Apa yang bisa aku lakukan sekarang?”

Misalnya:

  • membaca materi,
  • menyiapkan presentasi,
  • bertanya kepada guru,
  • menyusun jadwal,
  • atau beristirahat.

Jangan mencoba menyelesaikan seluruh hidup dalam lima menit.

Cukup satu langkah.

⏱️ MENIT 5 — LET IT REST

Katakan kepada diri sendiri:

“Aku sudah melakukan bagian yang bisa kulakukan hari ini.”

Kemudian lakukan aktivitas sederhana:

🎧 mendengarkan musik

📖 membaca

🚶 berjalan sebentar

💧 minum air

🧘 melakukan pernapasan perlahan

😴 bersiap tidur

Karena kadang solusi dari pikiran yang terlalu penuh bukan lebih banyak berpikir, tetapi memberi otak kesempatan untuk beristirahat.

💡 REMINDER BUAT KAMU

Kamu boleh punya kekhawatiran.

Kamu boleh merasa bingung.

Kamu boleh belum tahu jawabannya.

Kamu juga boleh mengambil waktu untuk istirahat.

Yang penting, jangan sampai pikiran yang belum tentu terjadi membuatmu kehilangan kesempatan untuk menikmati apa yang sedang terjadi sekarang.

Karena hidup bukan hanya tentang:

“Bagaimana nanti?”

Tetapi juga tentang:

“Apa yang sedang terjadi sekarang?”

Jadi kalau malam ini otakmu mulai membuka banyak tab…

Coba tarik napas.

Tutup satu per satu.

Dan katakan:

“Nggak semua hal harus selesai malam ini.” 🌙

Putri Erika, S.Psi

Putri Erika, S.Psi

Guru / Asatidz

Bimbingan Konseling

Lihat semua karya Putri Erika, S.Psi →

Apresiasi & Komentar 1

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru • 14 Sep 2026, 02:02

mantab bu