RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Opini Karya Guru & Asatidz

Hoax, Lelucon Berbahaya

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
18 September 2026 3 dibaca 0 disukai 0 komentar

HOAX, LELUCON BERBAHAYA

Oleh: Moh.Irham Zuhdi 

     

Era digitalisasi makin hari menunjukkan peningkatan penggunaan yang spektakuler melebihi sektor penting lainnya. Hal ini disebabkan karena digital dipercaya sangat efektif, cepat dan jangkauannya sangat luas. Digital dianggap media yang paling mampu dan memuaskan hasrat seseorang. Penggunaan internet bisa dibilang gila-gilaan seakan menggantikan kebutuhan primer manusia yakni pangan, sandang dan papan. 

Menurut hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025 tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 80,60%. Angka tersebut mengalami kenaikan 1.16% dari tahun sebelumnya, artinya data tersebut mengabarkan bahwa 8 dari 10 orang penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Bagaimana peta pengguna pada tahun 2026?. Trend pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun dapat dipastikan terus melangit. Contoh pada tahun 2025 ada 229 juta orang, meningkat dibanding tahun sebelumnya yakni 221 jiwa. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 merilis rerata kenaikannya ada 8 - 14 juta orang pertahun sehingga pada tahun 2026 diprediksi ada 243 juta orang dari jumlah penduduk sebanyak 284,44 jiwa. Jika dihitung dari rerata tertinggi, maka hanya tersisa 41,44 juta jiwa yang belum tersentuh internet karena faktor usia yakni balita dan manula, serta tak terjangkau oleh jaringan. Besarnya jumlah pemakai jaringan internet di Indonesia menjadi pundi-pundi uang yang jumlahnya sangat fantastis. Misalnya, jika rata-rata pengguna memilih paket data seharga Rp 50.000/bln x 243 juta pengguna maka pada tahun 2026, mereka akan meraup keuntungan 12,15 triliun perbulan. Jika uang triliunan tersebut ditumpuk pecahan lembaran seratus ribuan bisa setinggi gunung Everest dan jika dibelanjakan bisa untuk membiayai proyek infrastruktur raksasa, misalnya pembangunan ratusan kilometer jalan tol, beberapa bandara international bahkan cukup untuk mendanai anggaran pendidikan beberapa tahun di sebuah provinsi.

Tulisan ini tidak mengajak pembaca untuk iri pada hasil sebuah usaha tetapi mengajak untuk interospeksi, agar bijak menggunakan internet sehingga rupiah yang dikeluarkan tidak menguap hanya untuk tertawa-tawa melihat konten lucu, bermain game atau chating belaka menunggu kantuk tiba, tetapi memanfaatkan jaringan internet untuk meningkatkan produktifitas dan budaya positif dengan mengambil manfaat aplikasi-aplikasi yang menambah pengetahuan dan menyejukkan. Lebih bermanfaat lagi jika kita mau manfaatkan fitur-fitur digital untuk meningkatkan wawasan global bahkan keagamaan, termasuk membuat konten-konten kreatif dan menarik mengedukasi masyarakat dan dakwah jika perlu membuka peluang bisnis online berlabel halal. 

Jika kita amati dunia medsos hari ini makin tidak terkendali oleh ulah para influenzer yang asyik membuat konten-konten sesat dan menyesatkan, membohongi dan membodohi bahkan cenderung menyebar kebencian. Hal yang sebenarnya tidak pernah ada dibikin terjadi dengan mengilustrasikan sebuah tayangan yang seolah-olah benar adanya. Anehnya para netizen lebih mempercayai konten-konten yang nyata-nyata adalah hasil olahan artificial intellegence (AI). Berita bohong misalnya tewasnya seseorang bisa viral padahal orang tersebut masih sehat bugar, lebih viral lagi jika kontennya berbau politik.

Baru-baru ini berita yang menimpa sultan muda dari Madura berinisial HH dikabarkan meninggal, kebetulan sang sultan sedang berurusan dengan KPK. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sudah terkenal menjadi lebih gempar karena dunia international mengabarkan sosok kontroversi ini tewas mengenaskan. Terlepas adanya kebencian kepada seseorang, hari ini sangat mudah menghembuskan berita hoax. AI mampu membuat video bohong menjadi fakta dengan menampilkan tayangan yang terlihat jelas melalui gerakan bibir orang yang dimaksud seolah sedang berkata-kata fasih beraroma fitnah. Mereka yang sudah wafat puluhan bahkan ratusan tahun bisa hadir menyapa hanya dengan AI. Sungguh era digital teknologi memudahkan orang untuk membuat kekacauan. Berita hoax tak lagi momok untuk ditakuti tetapi menjadi ’konsumsi sehat’ setiap bermeditasi lewat ‘setan gepeng’ handphone tanpa henti. 

Berita hoax telah menjadi fitnah teknologi yang mampu mengubah seseorang yang dulunya santun dan pendiam menjadi berubah perangainya secara tiba-tiba karena tak tahan lagi. Terbaru adalah tampilnya Jusuf kalla yang dikenal tak banyak bicara dan bersahaja, tiba-tiba tampil dengan perangai baru yang garang dengan mengatakan “sampaikan kepada termul-termul…”. Ini membuktikan bahwa informasi digital telah menjadi panglima yang mengatur perangai bahkan seseorang begitu mudah meninggalkan nalar sehatnya hanya karena termakan oleh berita hoax. Ucapan Jusuf Kalla tidak saja menjadi lelucon baru tetapi berbahaya karena akan berdampak serius kepada mereka yang merasa tersakiti. Jujur saja, mungkin influenzer bisa belajar kepada sikap sosok Jokowi yang tidak mudah terpancing emosi ketika mendapatkan ejekan bahkan penghinaan yang diluar batas. Sosok yang menyebut dirinya ‘wong ndeso’ ini hanya menyambut dengan ekspresi santai dan kalem serta tertawa saja, meski publik tidak pernah tahu dibalik diamnya beliau. ‘Ada apa sebenarnya dibalik kalem dan santainya Jokowi’ ketika menyikapi isu yang memojokkannya dalam kasus ijazah palsu, anak PKI, bahkan dianggap perusak bangsa dan sebagainya, padahal beliau mantan Presiden RI dua periode. Jokowi tak bergeming. Pertanyaannya, nalar sehatnya mereka kemana. Ada lagi yang menarik dicermati, netizen dapat mengambil pelajaran dari seorang ‘Gus Dur’ yang begitu santai menghadapi problema dengan humor ‘begitu saja kok repot’.

Mencermati berita hoax yang kian marak ini dipastikan akan terus memakan korban tidak saja netizen awam bahkan elitpun sangat bisa. Lihat saja, Donald Trump presiden AS yang temperamental, yang begitu mudah termakan isu dengan kebijakannya yang selalu ngawur dan berubah-ubah di pentas international terutama menyikapi Selat Hormuz yang justru makin panas hanya karena ‘ngawurnya’ Trump. Bukankah semua itu tak lepas dari sikap seseorang yang memahami pemberitaan digital dengan emosional tanpa mencari kebenaran (tabayyun) atau cek & ricek ala program RCTI ok.

Isu fitnah modern yang membanjiri ruang publik hari ini sesungguhnya telah ada sejak dahulu kala dengan pola yang hampir sama namun berbeda media. Ambil saja salah satu peristiwa fitnah yang pernah mengguncang keluarga Nabi Muhammad saw bahkan sudah menjadi konsumsi publik penduduk Makkah. Dalam sebuah peristiwa, Aisyah r.a istri nabi saw didapati tengah berduaan naik kuda bersama Utsman bin Mu’atthol salah seorang tentara nabi. Aisyah menunggang kuda, Utsman menuntun kudanya hingga tiba di kota. Tentu saja berita itu sangat menyita perhatian penduduk Makkah karena Aisyah bukan wanita sembarangan. Sebagai istri nabi saw orang yang sangat dihormati, tentu beritanya menyita perhatian publik Makkah. Isu menarik ini makin digoreng oleh ‘youtuber’ kala itu Abdullah bin Ubay bin Salul menjadi finah keji yang menyudutkan nabi saw, seolah-olah Aisyah telah mengkhiyanati cinta nabi saw berselingkuh dengan Utsman bin Mu’atthol. Usut punya usut akhirnya ‘clear’ bahwa Aisyah tak ada hubungan spesial dengan Utsman, justru sebaliknya ia telah ditolong oleh Utsman, seorang tentara Islam ketika sedang tertinggal dari rombongan nabi saw dan hal itu makin terang setelah dikuatkan oleh turunnya Surat An-Nur ayat 11 yang membela Aisyah bahwa insiden fitnah itu tidak benar.

Kisah Aisyah r.a adalah pelajaran berharga bahwa hoax (fitnah) tak pernah ada sisi benarnya bahkan berbahaya. Memanfaatkan informasi teknologi tidak ada larangan dalam agama jika untuk kemaslahatan ummat, apalagi bertujuan membuka wawasan dan cakrawala berpikir konstruktif melalui fitur-fitur yang ada khususnya berdimensi religi dan kebangsaan, atau membuka jaringan bisnis online untuk kemaslahatan ummat dsb. Bukankah indah nian, jika santun dan bijak, pilih dan memilah dalam menggunakan informasi digital akan lebih menyelamatkan, sehingga medsos tidak saja sebagai sarana komunikasi dan bisnis tetapi lebih dari itu medsos mampu merajut tali silaturrahmi, meningkatkan produktifitas kerja yang pada akhirnya diharapkan bisa menjadi penguat meningkatkan kualitas hidup seseorang di tengah masyarakat.


 


         

  Era digitalisasi makin hari menunjukkan peningkatan penggunaan yang spektakuler melebihi sektor penting lainnya. Hal ini disebabkan karena digital dipercaya sangat efektif, cepat dan jangkauannya sangat luas. Digital dianggap media yang paling mampu dan memuaskan hasrat seseorang. Penggunaan internet bisa dibilang gila-gilaan  seakan menggantikan kebutuhan primer manusia yakni pangan, sandang dan papan.

Menurut hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2025 tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia mencapai 80,60%. Angka tersebut mengalami kenaikan 1.16% dari tahun sebelumnya, artinya data tersebut mengabarkan bahwa 8 dari 10 orang penduduk Indonesia telah terhubung dengan internet. Bagaimana peta pengguna pada tahun 2026?. Trend pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun dapat dipastikan terus melangit. Contoh pada tahun 2025 ada 229 juta orang, meningkat dibanding tahun sebelumnya yakni 221 jiwa. Laporan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025 merilis rerata kenaikannya ada 8 - 14 juta orang pertahun sehingga pada tahun 2026 diprediksi ada 243 juta orang dari jumlah penduduk sebanyak 284,44 jiwa. Jika dihitung dari rerata tertinggi, maka hanya tersisa 41,44 juta jiwa yang belum tersentuh internet karena faktor usia yakni balita dan manula, serta tak terjangkau oleh jaringan. Besarnya jumlah pemakai jaringan internet di Indonesia menjadi pundi-pundi uang yang jumlahnya sangat fantastis. Misalnya, jika rata-rata pengguna memilih paket data seharga Rp 50.000/bln x 243 juta pengguna maka pada tahun 2026, mereka akan meraup keuntungan 12,15 triliun perbulan. Jika uang triliunan tersebut ditumpuk pecahan lembaran seratus ribuan bisa setinggi gunung Everest dan jika dibelanjakan bisa untuk membiayai proyek infrastruktur raksasa, misalnya pembangunan ratusan kilometer jalan tol, beberapa bandara international bahkan cukup untuk mendanai anggaran pendidikan beberapa tahun di sebuah provinsi.

Tulisan ini tidak mengajak pembaca untuk iri pada hasil sebuah usaha tetapi mengajak untuk interospeksi, agar bijak menggunakan internet sehingga rupiah yang dikeluarkan tidak menguap hanya untuk tertawa-tawa melihat konten lucu, bermain game atau chating belaka menunggu kantuk tiba, tetapi memanfaatkan jaringan internet untuk meningkatkan produktifitas dan budaya positif dengan mengambil manfaat aplikasi-aplikasi yang menambah pengetahuan dan menyejukkan. Lebih bermanfaat lagi jika kita mau manfaatkan fitur-fitur digital untuk meningkatkan wawasan global bahkan keagamaan, termasuk membuat konten-konten kreatif dan menarik mengedukasi masyarakat dan dakwah jika perlu membuka peluang bisnis online berlabel halal.

Jika kita amati dunia medsos hari ini makin tidak terkendali oleh ulah para influenzer yang asyik membuat konten-konten sesat dan menyesatkan, membohongi dan membodohi bahkan cenderung menyebar kebencian. Hal yang sebenarnya tidak pernah ada dibikin terjadi dengan mengilustrasikan sebuah tayangan yang seolah-olah benar adanya. Anehnya para netizen lebih mempercayai konten-konten yang nyata-nyata adalah hasil olahan artificial intellegence (AI). Berita bohong misalnya tewasnya seseorang bisa viral padahal orang tersebut masih sehat bugar, lebih viral lagi jika kontennya berbau politik.

Baru-baru ini berita yang menimpa sultan muda dari Madura berinisial HH dikabarkan meninggal, kebetulan sang sultan sedang berurusan dengan KPK. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang sudah terkenal menjadi lebih gempar karena dunia international mengabarkan sosok kontroversi ini tewas mengenaskan. Terlepas adanya kebencian kepada seseorang, hari ini sangat mudah menghembuskan berita hoax. AI mampu membuat video bohong menjadi fakta dengan menampilkan tayangan yang terlihat jelas melalui gerakan bibir orang yang dimaksud seolah sedang berkata-kata fasih beraroma fitnah. Mereka yang sudah wafat puluhan bahkan ratusan tahun bisa hadir menyapa hanya dengan AI. Sungguh era digital teknologi memudahkan orang untuk membuat kekacauan. Berita hoax tak lagi momok untuk ditakuti tetapi menjadi ’konsumsi sehat’ setiap bermeditasi lewat ‘setan gepeng’ handphone tanpa henti.

Berita hoax telah menjadi fitnah teknologi yang mampu mengubah seseorang yang dulunya santun dan pendiam menjadi berubah perangainya secara tiba-tiba karena tak tahan lagi. Terbaru adalah tampilnya Jusuf kalla yang dikenal tak banyak bicara dan bersahaja, tiba-tiba tampil dengan perangai baru yang garang dengan mengatakan “sampaikan kepada termul-termul…”. Ini membuktikan bahwa informasi digital telah menjadi panglima yang mengatur perangai bahkan seseorang begitu mudah meninggalkan nalar sehatnya hanya karena termakan oleh berita hoax. Ucapan Jusuf Kalla tidak saja menjadi lelucon baru tetapi berbahaya karena akan berdampak serius kepada mereka yang merasa tersakiti. Jujur saja, mungkin influenzer bisa belajar kepada sikap sosok Jokowi yang tidak mudah terpancing emosi ketika mendapatkan ejekan bahkan penghinaan yang diluar batas. Sosok yang menyebut dirinya ‘wong ndeso’ ini hanya menyambut dengan ekspresi santai dan kalem serta tertawa saja, meski publik tidak pernah tahu dibalik diamnya beliau. ‘Ada apa sebenarnya dibalik kalem dan santainya Jokowi’  ketika menyikapi isu yang memojokkannya dalam kasus ijazah palsu, anak PKI, bahkan dianggap perusak bangsa dan sebagainya, padahal beliau mantan Presiden RI dua periode. Jokowi tak bergeming. Pertanyaannya, nalar sehatnya mereka kemana. Ada lagi yang menarik dicermati, netizen dapat mengambil pelajaran dari seorang ‘Gus Dur’ yang begitu santai menghadapi problema dengan humor ‘begitu saja kok repot’.

Mencermati berita hoax yang kian marak ini dipastikan akan terus memakan korban tidak saja netizen awam bahkan elitpun sangat bisa. Lihat saja, Donald Trump presiden AS yang temperamental, yang begitu mudah termakan isu dengan kebijakannya yang selalu ngawur dan berubah-ubah di pentas international terutama menyikapi Selat Hormuz yang justru makin panas hanya karena ‘ngawurnya’ Trump. Bukankah semua itu tak lepas dari sikap seseorang yang memahami pemberitaan digital dengan emosional tanpa mencari kebenaran (tabayyun) atau cek & ricek ala program RCTI ok.

Isu fitnah modern yang membanjiri ruang publik hari ini sesungguhnya telah ada sejak dahulu kala dengan pola yang hampir sama namun berbeda media. Ambil saja salah satu peristiwa fitnah yang pernah mengguncang keluarga Nabi Muhammad saw bahkan sudah menjadi konsumsi publik penduduk Makkah. Dalam sebuah peristiwa, Aisyah r.a istri nabi saw didapati tengah berduaan naik kuda bersama Utsman bin Mu’atthol salah seorang tentara nabi. Aisyah menunggang kuda, Utsman menuntun kudanya hingga tiba di kota. Tentu saja berita itu sangat menyita perhatian penduduk Makkah karena Aisyah bukan wanita sembarangan. Sebagai istri nabi saw orang yang sangat dihormati, tentu beritanya menyita perhatian publik Makkah. Isu menarik ini makin digoreng oleh ‘youtuber’ kala itu Abdullah bin Ubay bin Salul menjadi finah keji yang menyudutkan nabi saw, seolah-olah Aisyah telah mengkhiyanati cinta nabi saw berselingkuh dengan Utsman bin Mu’atthol. Usut punya usut akhirnya ‘clear’ bahwa Aisyah tak ada hubungan spesial dengan Utsman, justru sebaliknya ia telah ditolong oleh Utsman, seorang tentara Islam ketika sedang tertinggal dari rombongan nabi saw dan hal itu makin terang setelah dikuatkan oleh turunnya Surat An-Nur ayat 11 yang membela Aisyah bahwa insiden fitnah itu tidak benar.

Kisah Aisyah r.a adalah pelajaran berharga bahwa hoax (fitnah) tak pernah ada sisi benarnya bahkan berbahaya. Memanfaatkan informasi teknologi tidak ada larangan dalam agama jika untuk kemaslahatan ummat, apalagi bertujuan membuka wawasan dan cakrawala berpikir konstruktif melalui fitur-fitur yang ada khususnya berdimensi religi dan kebangsaan, atau membuka jaringan bisnis online untuk kemaslahatan ummat dsb. Bukankah indah nian, jika santun dan bijak, pilih dan memilah  dalam menggunakan informasi digital akan lebih menyelamatkan, sehingga medsos tidak saja sebagai sarana komunikasi dan bisnis tetapi lebih dari itu medsos mampu merajut tali silaturrahmi, meningkatkan produktifitas kerja yang pada akhirnya diharapkan bisa menjadi penguat meningkatkan kualitas hidup seseorang di tengah masyarakat.

 

 

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Guru / Asatidz

Kepala Madrasah

Lihat semua karya Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd →

Apresiasi & Komentar 0

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama mengapresiasi karya ini!