RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Opini Karya Guru & Asatidz

SANTRI AGENT of CHANGE

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
30 September 2026 4 dibaca 0 disukai 0 komentar

SANTRI: AGENT OF CHANGE

Oleh: Dr.H.Moh.Irham Zuhdi, S.Pd.,M.Pd

 

Peradaban Islam sudah sedemikian pesat mengalami perubahan diawali dari revolusi pasca Perang Salib yang terjadi sekitar abad 11 – 17 yang berlangsung 9 fase peperangan yakni tahun 1095 – 1270 M terutama saat setelah kemenengan Panglima Salahuddin Al Ayyubi yang menaklukkan Jerussalem tahun 583 H atau sekitar 1187 M adalah momentum besar perubahan Islam. Dunia Islam berubah berkembang pesat terutama perkembangan Ilmu pengetahuan dan budaya.

Kemudian jika mencermati perkembangan Islam di Indonesia tentu juga tidak lepas dari perjalanan perkembangan Islam global. Masuknya Islam di Indonesia yang dahulu dikenal dengan negeri Nusantara adalah tahun 700 M jauh sebelum terjadinya Perang Salib. Hal ini dibuktikan oleh adanya perkampungan Arab di pesisir barat Pantai Sumatera dan pada abad 13 berdiri kerajaan Islam di Samudra Pasai. Data ini dikuatkan oleh catatan China yang ditulis Jean A Berlie bahwa pada tahun 712 M banyak relasi dari China berdatangan ke nusantara bertemu dengan orang-orang Arab di Sumatera, yang saat itu dalam masa pemerintahan Kholifah Ustman bin Afwan menugaskan Saad bin Abi Waqash datang ke China pada masa Dinasti Tang. Sementara menurut versi Persia, Agama Islam masuk ke Indonesia abad 7 sekitar tahun 674 M dan berlanjut hingga pada abad 14 dimulailah babak baru perkembangan Islam yang dibawa oleh para walisongo yang datang melalui pintu-pintu pantai pesisir pulau Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat hingga Islam berkembang pesat di Indonesia menjadi pemeluk Islam terbesar di dunia.

Seiring perjalanan waktu yang terus bergerak, bermunculan pesantren-pesantren yang digagas oleh para walisongo sebagai pusat-pusat penyebaran Islam hingga saat ini. Keberdaan pondok pesantren yang menjadi motor penggerak pendidikan pertama di Indonesai yang secara otomatis menjadi gerakan Islam dan pendidikan Islam yang masif dilakukan oleh para pendahulu bangsa, baik para kyai, ulama dan cendekiawan bahkan para tokoh politik bangsa. Mereka secara bersama-sama sesuai eranya telah melakukan perubahan tidak saja permasalahan agama tetapi juga terhadap nasib bangsa Indonesia bahkan global. Contoh kongkrit gerakan para kyai dan ulama yang fundamental yakni pada tanggal 22 Oktober 1945 KH. Muhammad Hasyim Asy’ari Rois Akbar PBNU menyerukan kepada pemerintah saat itu dan kepada seluruh masyarakat Indonesia untuk melaksanakan kewajibannya sebagai bangsa Indonesia menolak dan melawan bangsa kolonial Belanda yang akan menjajah kembali Indonesia setelah diproklamirkan kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945 yang dikenal dengan Resolusi Jihad. Keputusan menolak penjajahan melalui resolusi jihad itu membawa perubahan yang sangat besar bagi kelangsungan sebuah negara yang berdaulat dan mendapat dukungan dari seluruh bangsa-bangsa didunia. Inisiatif cerdas dan berani itu datang dari kalangan pondok pesantren, sehingga mampu meyakinkan bangsa Indonesia bahwa perjuangan dan peran santri kepada pembelaan negara sangat tidak diragukan. Peran santri sebagai agen perubahan di awal-awal berdirinya sebuah negeri merdeka menjadi semangat untuk konsisten dan istiqomah dalam mengawal perubahan sebuah bangsa Indonesia menjadi negara yang maju, sejahtera dan berakhlak namun tetap dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI)

Oleh karena itu maka pantas dan seyogjanya pemerintah tidak tinggal diam dan menyelamatkan sejarah akan eksistensi perjuangan dan pengorbanan mereka kaum santri ‘sarungan’ yang berjuang untuk agama dan negaranya melalui regulasi negara. Andaikan kemudian pemerintah melalui presidan Joko Widodo melahirkan keputusan presiden (Keppres) Nomor 22 Tahun 2015 yang ditandatangani pada 15 Oktober 2015 bahwa Keppres tersebut menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional adalah bukan regulasi yang asal-asalan atau bahkan bernuansa politis, yang tidak perlu ada golongan yang iri atas Keppres tersebut.  Minimal ada 5 alasan ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional:

1. Bentuk pengakuan dan penghargaan negara kepada kaum santri atas kiprahnya  menjaga dan merawat NKRI

2. Sebagai penegasan peneguhan tanggung jawab santri terhadap negara.

3. Secara sosio-politik menggambarkan kekuatan relasi negara dengan agama, bisa menjadi model dunia tentang hubungan negara dan agama

4. Meneguhkan persatuan umat Islam yang terafiliasi dengan kelompok-kelompok yang berbeda dan melebur dalam satu frame kesantrian

5. Menegaskan distingsi Indonesia yang religius demokratis, dengan istilah lain adalah upaya merawat dan mempertahankan religiusitas Indonesia yang demokratis di tengah kontestasi pengaruh ideologi agama global yang cendrung ekstrim radikal.

         Lahirnya Hari Santri Nasional dapat diistilahkan lahirnya babak baru memasuki era digital, untuk mengukur keterlibatan santri di pentas teknologi yang kini makin berkembang pesat melampaui prediksi semua para ahli. Para cerdik pandai tersebut berprediksi masih 10 – 20 tahun lagi era digitalisasi bakal membuming di semua lini kehidupan manusia. Faktanya sejak Covid 19 tahun 2019 melanda dan berubah menjadi peristiwa sunami bagi dampak kemanusiaan. Ternyata pada pertengahan tahun 2020 - 2022, Covid 19 tak terhentikan oleh upaya perlawanan kesehatan dunia hingga jutaan orang menjadi korban. Saat itu aktifitas manusia sangat dibatasi, semua harus tinggal di rumah sehingga memacu dan memicu lahirnya kekuatan teknologi untuk menfasilitasi kebutuhan manusia agar dapat tetap berinteraksi dan berkomunikasi melalui jaringan internet (daring). Semua dapat dilayani oleh teknologi jaringan sehingga mau tidak mau orang harus menerima dan bahkan terlibat dalam dunia digital hingga saat ini dan terus sampai fase teknologi ini lumpuh dan mati. Disinilah santri dituntut untuk tidak lagi berkiprah secara manual tetapi aktif terlibat dalam jaringan teknologi yang semakin ‘melangit’. Yakinlah bahwa santri akan dengan mudah memasuki era teknologi dengan ringan dan santai karena pendidikan selama di pesantren dan madrasah-madrasah sudah banyak dibekali dengan kekuatan-kekuatan atau spirit membangun jati diri untuk tetap bisa eksis di dunianya nanti yang terus berubah. Minimal ada 3 kekuatan atau spirit bagi santri untuk siap menjadi agen perubahan yakni;

 

1. Spiritual agama

2. Berani mandiri (survival) dan percaya diri

3. Tumbuh dalam ketawaddu’an (akhlak karimah)

Ketiga kekuatan tersebut jika mampu disatukan maka akan lahir kemampuan hebat untuk menguasai dunia global dan bukan sekedar lokal. 

Spiritual agama

Fase ini sangat penting dimiliki oleh setiap pengemban perubahan karena jika setiap orang tidak memiliki tingkat spirit agama yang kuat maka ia akan tergeser pada kehancuran bahkan menghancurkan. Agama sebagai spirit manusia untuk tidak tersesat jalan dan menjalani kehidupannya. Mereka akan memiliki kekuatan untuk tetap pada jalur kebenaran. Apabila mereka memiliki kemampuan teknologi maka kemampuannya akan diarahkan pada kesejahteraan manusia bukan sebaliknya menghancurkan umat. Sudah banyak contoh bertebaran di depan mata termasuk didunia maya, hadirnya teknologi yang justru merusak tatanan bahkan membunuh sesama. Sebaliknya teknologi yang canggih akan dapat memberikan maslahah kepada sesama manusia jika berada di tangan yang memiliki nilai dan spirit agama yang kuat. Teknologi pertanian yang banyak ditunggu oleh para petani untuk meningkatkan hasil produksi pertaniannya melalui sentuhan teknologi. Deteksi dini teknologi akan mengurangi bahkan meniadakan korban yang lebih banyak jika secara tiba-tiba bencana alam datang.

 

Berani mandiri/survival dan percaya diri

Sikap ini adalah modal psikhis yang kerap ditempa oleh para santri di pesantren. Kehidupan pesantren yang jauh dari orang tua yang serba disiapkan akan berubah secara drastis harus mengurus sendiri kehidupannya dan berusaha untuk tetap survival menghadapi banyak persoalan dan ujian bahkan bulliying menjadi makanan sehari-hari mereka. Fasilitas hidup dalam keterbatasan di pesantren baik permodalan atau biaya hidup dan akses yang harus di dapat, tak mudah bagi mereka untuk menyerah bahkan sebaliknya justru menjadi cara dan strategi bagi mereka untuk bisa bertahan sehingga mereka makin tumbuh kepercayaan diri. Hal ini sangat penting bagi mereka sebagai pilar dalam menjalani kehidupan sebenarnya di manapun mereka berada. Mereka memang tidak disiapkan untuk menjadi produsen teknologi di dalam kurikulum pendidikan pesantren meski saat ini sudah ada spesifikasi pesantren yang menyiapkan santrinya menjadi teknokrat. Dengan berbekal pendidikan dan tempa yang kuat pada sikap berani, mandiri, survival dan percaya diri justru para santri akan lebih siap menerima kehadiran arus digitalisasi dibanding mereka yang tidak mendapatkan bekal tersebut yang justru akan tergerus oleh arus teknologi yang negativ.

Tumbuh dalam ketawaddu’an (akhlak karimah)

Dunia saat ini gelisah bahkan ditakuti  oleh banyak orang, perilaku dan sikap tidak ramah bahkan amoral. Suguhan setiap hari di layar kaca televisi dan layar HP tak luput dari tayangan dan informasi yang tidak produktif bahkan melawan norma dan hukum, belum lagi maraknya aksi kejahatan, narkoba dan radikal kerap menjadi tontonan sehari-hari. Berita hoax, modus penipuan, asusila dan ujaran kebencian seolah tak berhenti dari dalam genggaman HP setiap orang. Mirisnya HP ini menjadi konsumsi wajib bagi anak-anak dibawah umur. Mereka tidak mau pisah dari mainan teknologi yang tengah meracuninya, sementara para orang tua tak tertarik dengan polah perilaku anak-anaknya karena mereka lebih khusyuk dengan whatsapp, tiktok dan instagram bahkan sibuk merambah mencoba menjadi youtuber sehingga abai bahkan lalai dengan tugas mulia sebagai orang tua untuk menyiapkan generasi penerusnya yang lebih baik dan bermanfaat bagi lingkungannya. Mereka tengah mabuk dengan kepuasaan sesaat, tertawa sendiri dan melayangkan hayalannya untuk meraup subscriber sebanyak-banyaknya dengan konten-konten yang tidak bermutu bahkan merusak demi mendapatkan rupiah. Dalam dunia yang sudah memasuki alam maya ini, setelah orang mulai sadar akan dampak yang buruk, mereka sadar betapa pentingnya kesalehan seseorang, sangat perlunya akhlakul karimah hingga seseorang mencapai kedudukan yang tawadduk. Sudah sangat sulit sekali posisi tersebut didapat, ibarat mencari jarum dalam tumpukan jerami, sebuah pepatah kuno yang sangat relevan untuk kondisi saat ini.

Dalam pengamatan kami dunia sudah terbalik-balik, seorang guru yang harusnya digugu dan ditiru menjadi cemoohan orang karena kasus asusila dengan santri atau muridnya gegara pengaruh teknologi. Orang tua yang tidak lagi keramat karena ulahnya yang salah dalam mendidik anak-anaknya. Para pemimpin yang korup hanya karena mengembalikan modal saat ajang pemilihan akibat ‘dipaksa’ bagi-bagi oleh rakyatnya, endinya sang pemimpin kehilangan kharismatiknya bahkan dapat caci-maki dari pemilihnya. Jika sudah sepertinya maka pihak siapa yang bersalah. Sebelum terlambat pendidikan akhlak budi menjadi harga mati bagi anak-anak generasi bangsa yang belum tahu hingar-bingarnya dunia. Para orang tua sebagai guru pertama bagi anak-anaknya, para guru menjadi pilar utama pembentukan jati diri anak untuk mengenal lingkungan dan bangsanya, agar mereka siap menggantikan generasi pendahulunya dengan lebih baik. Lingkungan masyarakat yang senantiasa bersama anak-anak harus steril dari hal-hal yang dapat mengganggu perkembangan positif mereka. Jika semua bergerak sesuai bidangnya maka bukan hal yang mustahil akan melahirkan generasi yang tangguh dan berakhlak. Mereka akan menjadi agen perubahan dan mengawal dunianya menuju maslahat lil ‘ammah.

Wallahu a’lam bisshowaf

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Guru / Asatidz

Kepala Madrasah

Lihat semua karya Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd →

Apresiasi & Komentar 0

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama mengapresiasi karya ini!