Nabi Dikepung, Target Pembunuhan
Oleh Moh. Irham Zuhdi
Perkembangan Islam mulai terasa di tengah-tengah penduduk Makah. Satu-persatu penduduk Makah mulai tertarik kepada Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW karena akhlak Rasululullah. Tentu saja kondisi ini sangat menghawatirkan orang-orang kafir terutama kafir Quraisy. Mereka merasa sebagai suku terhormat dan terbesar di kota Makah sangat terganggu. Padahal dakwah Nabi Muhammad dilakukan dengan rahasia atau gerilya agar tidak banyak menemui halangan. Tetapi tak urung didengar juga oleh kaum kafir Quraisy.
Untuk mencegah meluasnya pengaruh Muhammad yang membawa syariat baru, maka kaum kafir Quraisy tidak segan-segan melakukan intimidasi, penyiksaan bahkan membunuh orang-orang yang mencoba masuk Islam. Hal ini membuat beberapa penduduk yang masuk Islam mulai tidak aman dan takut. Oleh karena itu Nabi SAW memerintahkan beberapa orang untuk hijrah meninggalkan Makah menuju Yasrib, nama sebelum menjadi kota Madinah. Beberapa sahabat utama telah lebih dulu meninggalkan Makah, tersisa sahabat Abu Bakar dan Ali bin Abi Tholib.
“Wahai sahabatku Abu Bakar, jangan engkau terburu-buru pergi ke Yasrib, Makah membutuhkanmu”, kata Nabi.
Situasi Makah semakin tegang setelah mendengar ada 11 kabilah utama kafir mengadakan rapat mendadak dan rahasia di Darun Nadwah untuk membahas perkembangan Islam yang dianggap akan mengancam eksistensi keyakinan nenek moyangnya. Mereka menghawatirkan perpindahan orang-orang Islam ke Yasrib akan menyerang balik ke Makah ketika sudah kuat. Maka pemboikotan kepada umat Islam dilakukan dimana-mana, bahkan Abu Jahal yang tak lain adalah paman nabi mengusulkan membunuh Muhammad.
“Saya usul, bunuh saja Muhammad”, kata Abu Jahal
Semua peserta rapat terkejut dengan usulan itu karena mereka mengenal Muhammad adalah keponakan Abu Jahal.
Mereka semula keberatan karena takut, akan ada pembalasan dari Bani Abdi Manaf jika Muhammad dibunuh oleh orang-orang kafir. Tetapi setelah Abu jahal menjadi tokoh utama dibalik skenario pembunuhan Muhammad, maka mereka siap melancarkan aksi jahat tersebut
Abu Jahal menjelaskan ;
”Kita pilih setiap kabilah satu pemuda yang tangguh dari keluarga bangsawan, paling baik nasabnya. Kita beri pedang tajam. Lantas mereka kita perintah jemut paksa Muhammad, menebaskan pedangnya masing-masing hingga mati.”
Ia melanjutkan;
”Dengan demikian darah Muhammad tercecer ke semua kabilah. Bani Abdi Manaf tidak akan sanggup memerangi semua kabilah untuk menuntut balas. Paling-paling mereka menuntut diyat (denda). Ganti rugi. Itu mudah bagi kita. Kita bayar saja ganti rugi itu. Selesai dan kita semua aman,” kata Abu Jahal.
Semua orang sepakat dengan usul itu. Setiap kabilah segera memilih dan mengirimkan pemuda terbaiknya untuk menjadi algojo. Akhirnya disepakati pelaksanaan eksekusi dilaksanakan malam hari.
Waktu berjalan sangat cepat. Ternyata berita rencana jahat membunuh Muhammad telah menyebar di tengah-tengah penduduk Makah. Hal itu menimbulkan situasi makin mencekam. Malam itu tak ada satupun orang yang berani keluar dari rumahnya. Mereka mengunci pintu rapat-rapat. Sementara itu para pemuda kabilah terpilih sudah siap-siap dengan pedang terhunus telah mengepung rapat rumah Muhammad dipimpin oleh Abu Jahal.
Nabi Muhammad saat itu tengah berada di dalam dan sengaja tidak tidur tengah ditemani Ali bin Abi Thalib keponakannya. Beliau sekali-kali mengintip dari dalam rumah untuk memastikan kondisi pengepungan atas dirinya. Ia mengenali salah satu dari mereka adalah pamannya Abu Jahal.
Tiba-tiba Nabi Muhammad mendengar suara Abu Jahal memberi penjelasan kepada para pemuda kafir Quraisy.
”Muhammad mengatakan, kalau kalian mengikutinya bakal jadi pemimpin, dibangkitkan setelah kematian, dan diberi surga seperti taman Yordan. Jika kalian tidak mengikuti, kalian disembelih, dibangkitkan setelah kematian, dan kalian mendapat neraka dan dibakar,” kata Abu Jahal.
”Itu semua bohong. Kalianlah malam ini bertugas mengakhiri kebohongan itu,” ujar Abu Jahal lagi.
Dia segera memerintahkan para pemuda mendekati rumah Nabi. Mengendap-endap lalu mencari celah dinding untuk mengintip situasi kamar. Kemudian mendekati pintu hendak menerobos masuk.
Namun rencana mereka sudah dipahami Muhammad karena malaikat Jibril selalu mengabarkan kepada nabi tentang situasi yang sedang dihadapi termasuk menyusun skenario tempat tidur beliau ditempati Ali bin Abu Thalib untuk mengelabuhi musuh, seolah-olah nabi sedang tidur dan tidak menyadari aksi mereka.
Atas petunjuk Allah SWT melalui Jibril, nabi diminta membaca ayat 82 Surat Yasin dan menghentakkan kakinya 3 kali serta menaburkan pasir ke arah para pemuda yang mengepung rumah nabi SAW.
اِنَّمَآ اَمْرُهٗٓ اِذَآ اَرَادَ شَيْـًٔاۖ اَنْ يَّقُوْلَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ
Artinya:
“Sesungguhnya ketetapan-Nya jika Dia menghendaki sesuatu, Dia hanya berkata kepadanya “jadilah, mak terjadi (sesuatu) itu”…
Sungguh menakjubkan, setelah nabi Muhammad melaksanakan perintah Jibril, para pemuda tersebut sudah tak sadarkan dirinya, ada yang tergeletak, ada yang sandaran dan ada yang berdiri bengong. Disaat itulah Nabi Muhammad SAW keluar dari rumah dengan santai dan mudahnya langkah kakinya melewati para pemuda yang tengah asyik dengan dunia barunya, tak terkecuali Abu jahal. Nabi Muhamad segera menuju rumah Abu Bakar untuk diajak menemani selama pelariannya menuju Yasrib.
Situasi pengepungan tiba-tiba dikejutkan oleh suara seseorang dari mereka yang tersadar dan berteriak:
“Hai, ada apa kalian semua!, saatnya menyerbu ke dalam rumah Muhammad sudah harus dimulai”.
Abu Jahal yang sadar akan dirinya segera memerintahkan para pemuda untuk menyerbu ke dalam rumah dan mencincang Muhammad. Betapa terkejutnya, buruan mereka sudah tidak ada dan yang tinggal di rumah Muhammad hanya anak kecil Ali bin Abu Thalib yang lagi terlelap tidur.
“Kurang ajar..!, Muhammad telah kabur!”, teriak Abu Jahal
“Kejar dan tangkap Muhammad, hidup atau mati, teriaknya.
Perburuan Muhammad kekasih Allah SWT dimulai, tak ada tempat yang lolos dari pemeriksaan bahkan disediakan hadiah besar bagi siapa saja yang berhasil menangkapnya. Namun kuasa Allah SWT tak ada yang mampu melawan. Akhirnya Nabi agung Muhammad SAW berhasil lolos ditemani sahabat Abu Bakar sampai di kota Yasrib setelah menempuh perjalanan panjang lebih dari 450 Km yang melelahkan penuh rintangan.
Akhirnya Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar tiba di Madinah pada hari Jumat, 12 Rabiul Awal tahun 1 (satu) Hijriah atau 27 September 622 M setelah sebelumnya singgah di Quba selama beberapa hari. Beliau berdua disambut meriah sepanjang jalan dengan membaca pujian-pujian oleh penduduk Madinah.