Jingga di ujung sayap
Angin di atap rumah susun itu selalu asin. membawa bau karat, jemuran, dan mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk ruang 3x4 meter.
Di sanalah sera duduk setiap senja. kakinya bergantung di tepi atap, jemarinya meneluusuri luka di lutut, oleh-oleh dari jatuh saat latihan baris berbaris tadi siang. Di bawah, lebaksari riuh
oleh klakson dan pedagang sate. Di atas, hanya ada langit. cakrawala jingga yang menelan matahari pelan-pelan, seperti janji yang tak pernah di tagih.
" Cita-cita kamu apa, ra? " suara bapak menggema di kepala sera. pertanyaan enam tahun lalu, saat bapak masih bisa mengikat tali sepatunya sendiri sebelum berangkat jadi kuli panggul di pelabuhan.
" Jadi pilot, pak. Biar bisa terbang. biar bapak ngak usah angkat beras karungan lagi."
Bapak hanya tertawa, Batuknya mengelilingi." sayapmu belum tumbuh, nduk. makan dulu yang banyak."
Sayap iti tak pernah tumbuh. Yang tumbuh justru tagihan rumah sakit. Bapak pergi setahun setelahnya, meninggalkan ibu yang kini berjualan pecel di gang dan sera dengan seragam paskibra yang kesempitan.
cita-cita jadi pilot ia kubur diam-diam di bawah bantal, bersama brosur skolah penerbangan yang sudah lecek ujungnya.
" Ra, udah! Turun!. Nanti masuk angin," teriak ibu dari bawah. sera tidak turun. sebab di atap ini, ia bisa pura-pura. pura-pura gedung-gedung itu awan. pura-pura suara motor itu deru mesin pesawat.
pura-pura dirinya tidak takut.
Ketakutan itu punya nama : biaya uang pangkal sekolah penerbangan lebih besar dari semua gaji ibu selama lima tahun, kalau tidak makan dan tidak bayar kontrakan. teman-temannya bilang, " ngimpi aja lu.
Anak rusun mau nyetir pesawat?"
Malamnya, sera membuka lagi kotak yang di bawah kasur. Isinya bukan emas hanya piagam lomba gerak jalan tingkat kabupaten, foto bapak bersandar di karung beras, dan buku tabungan yang angkanya
menyedihkan. delaran ratus dua puluh tiga ribu rupiah. Hasil menyisihkan uang jajan dan upah-upah bantu-bantu di warung Bu RT.
Kurang, selalu kurang.
Esoknya di sekolah, pengumuman itu di mading. Beasiswa calon penerbangan angkasa muda. Syarat : Nilai rapot, tes fisik dan esai " Mengapa langit memanggilku ".
Jntung sera berdetak lebih kencang dari biasanya. ini bukan sedekar pintu. ini lubang kunci yang harus ia jebol dengan tangannya sendiri.
Tingga minggu kemudian, sera berdiri di lapangan sekolah penerbangan angkasa muda. kaus putih, selana training hitam, nomor dada 041. sendirian. Tas ranselnya cuma isi botol minum bekas
sama fotocopian esai yang ujungnya udah lecek.
Tes fisik, Lari 2400 meter. Pluit di bunyikan .
Putaran pertama sera masih kuat. putaran kedua napasnya makin putus-putus. Putaran ketiga dunia rasanya muter. kakinya keram, dadanya sesak keringatnya netes sampai ke dagu.
Dikepala sera, suara bapak tiba-tiba muncul pelan, tapi jelas: " Sayapmu belum tumbuh, nduk."
Sera mau berhenti. mau jatuh. tapi terus dia melangkah kakinya, Matanya panas, dan sambil lari dia ngomong lirih ke langit : " Aku akan buat sayap itu sendiri, yah. liat aku.aku nggak punya
siapa-siapa lagi buat di liatin, yah.jadi liat aku."
Selangkah, dua langkah, kakinya kayak di gerakin sama janji itu. bukan otot lagi. Dia narik napas panjang, ngebayangin bapak lagi ikat tali sepatunya dulu sebelum ke pelabuhan.
sera lari lag. lebih kenceng. sampai garis finish dia jatuh terduduk, tapi bibirnya bibirnya nyengir.
Keesokan harinya, jam 9 pagi, ada yang ngetok pintu kamar rusun petak 3x4 meter. Pak pos nyodorin amplop coklat, cap angkasa musa. nggak ada yang nerima selain sera sendiri.
tangannya gemeter pas buka.
Selamat . Anda di nyatakan LULUS tes Fisik & Wawancara Calon Penerbangan Angkasa Muda 2026.
Jadwal masuk asrama : 18 Meil 2026
Amplop itu dia dekap ke dada. tangan nya gemeter, air matanya mencapai dagunya. Di kamar yang sepi 3x4 meter itu, cuma bau kertas baru yang nemenin sera. Nggak ada tangan lain,
nggak ada suara lain.
Empat tahun kemudian.
Juanda, 06.15. Di kokpit JT-747, First Officer sera ngelirik panel. Tiga baris emas udah nempel di pundaknya, nggak goyang, nggak gemeter .
" First Officer sera, all set ?"
" All set, Captain. Request permisssion for take off."
Pesawat ngangkat, Dari kaca kokpit, awan putih ngehampar luas. sama kayak dulu dia tatap dari genteng rusun . Tangan sera ngeraba saku. ada dua foto lecek di sana. Bapak sama ibu.
Dia tekan headset, bisik pelan ke langit : " Yah, Bu.. sera udah jadi pilot, sayapku udah tumbuh."