RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Cerpen Karya Guru & Asatidz

Orang Madura Bius Malaikat

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
20 September 2026 4 dibaca 0 disukai 0 komentar

Orang Madura Bius Malaikat

Oleh Moh.Irham Zuhdi_

 

Kisah ini hanya cerita anekdot belaka sebagai media hiburan yang tetap memiliki hikmah bagi siapa saja yang dapat mengambil sarinya.

Bukan orang Madura jika tak banyak akal dan keberanian. Mungkin sulit mencari negara yang tak dijamah orang madura. Sangking uniknya orang Madura, tak heran bermunculan cerita-cerita humor tentang manusia pulau garam ini.

Dikisahkan, hidup seorang paruh baya di sebuah desa di Madura bernama Mattaqi. Sehari-hari ia bekerja di kebun, ia mencangkul tanahnya yang tak kunjung subur sejak kakek neneknya lahir. Dia bermimpi hidupnya dapat berubah menjadi lebih baik meski tidak sekelas para sultan di Madura. Setiap pagi ia pergi ke kebun dan baru pulang ketika senja. Makan dan sholat ia lakukan di kebun. Sama sekali Mattaqi begitu ia dipanggil orang tak menampakkan wajah yang sedih meski harus bergulat dengan kemiskinan, ia tetap opotimis.

Pada suatu hari, ia tak biasanya pulang ke rumah tidak terlalu sore. Kesempatan itu ia gunakan untuk duduk santai sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok lintingnya. Sekali-kali senyum sendiri mencoba menatap hari esok yang pasti akan cerah. Tanpa disadari rumahnya diketuk seseorang, buru-buru ia bangkit dan membuka pintu rumahnya. Dengan senyum ia menyapa,

“Silakan masuk, siapa dan dari mana saudara?”, tanya Mattaqi

Tamunya tidak segera menjawab tetapi memilih duduk sambil meletakkan tumpukan kertas yang dibawa di atas meja.

“Siapa saudara?”, tanya Mattaqi mengulang lagi pertanyaannya.

Tamunya segera menjawab;

“Saya Malaikat Izrail”, jawabnya singkat.

“Jangan guyon?”, kata Mattaqi.

“Betul, saya Malaikat Izrail yang datang untuk mencabut nyawamu”. Jawab tamu

Spontan wajah Mattaqi memerah dan hatinya berdegup agak kencang.

“Apa iya, dia malaikat Izrail, waduhhh... gawat!’, bisik hati Mattaqi.

“Apa modalmu berani menyabut nyawaku!”!. Tanya Mattaqi sedikit memberanikan diri.

“Lihatlah tumpukan kertas diatas meja ini, namamu ada di urutan paling atas”, jawab malaikat.

“Oh, baiklah malaikat, tapi beri kesempatan aku, untuk sekedar pamit dengan keluarga dan menyiapkan kopi hangat untukmu”, kata Mattaqi.

Mattaqi segera masuk kedalam rumah sambil berpikir mencari cara bagimana bisa lolos dari kematian. Ia pun sudah lupa bahwa malaikat itu tidak makan dan minum, tetapi tadi ia tak sadar mau memberi secangkir kopi hangat. Kesempatan ini ia gunakan sebaik-baiknya. Kopi disiapkan tak lupa ia bubuhi dengan ramuan yang bisa menyebabkan ngantuk (teler) bagi yang minum.

“Mari silakan minum, mumpung masih hangat”, kata Mattaqi.

Tamunya tak mau membuang-buang kesempatan, demi menghormati tuan rumah ia meminum kopi itu hingga habis.

Tak lama kemudian, malaikat itu tak sadarkan diri dan terlelap dalam tidurnya.

Mattaqi sangat gembira karena melihat malaikat sedang tertidur pulas. Kesempatan baik ini ia gunakan untuk berbuat curang. Ia melihat tumpukan kertas di meja. Segera ia mengambil kertas yang paling atas karena kata malaikat Izrail namanya tertera pada kertas paling atas. Mattaqi cepat-cepat mengambil kertas itu dan diletakkan di urutan paling bawah. Ia berharap hari ini belum bisa dicabut nyawanya karena telah ada di urutan paling bawah. Lumayan masih bisa mencangkul dan makan singkong bakar.

Lama sekali malaikat itu tertidur, rupanya ramuan buatan Mattaqi sangat manjur hingga malaikat terbius pulas. Muttaqi mulai panik dan ketakutan, jangan-jangan malaikat yang meninggal dunia. Dia mencoba membangunkan tamunya sambil menggerak-gerakkan badan pelan, tetapi tamunya tak kunjung sadar. Mattaqi panik, ia membayangkan betapa besar dosa telah membunuh seorang malaikat, mungkin tak terampunkan. Untunglah tiba-tiba ada gerakan tangan tamu yang ia pegang.

“Waduuuh, saya tertidur pulas, Terima kasih ya.. telah membangunkan saya”, kata malaikat.

“Benar tuan..rupanya tuan malaikat kelelahan setelah perjalanan jauh”, kata Mattaqi

“Mohon maaf terpaksa saya memijit tangan tuan, berharap tuan segera bangun”, imbuhnya.

“Ya..ya..terima kasih, bagaimana?, kau sudah siap?’ kata malaikat.

“Siap apa tuan”, tanya Muttaqi.

“Tugasku hari ini mencabut nyawamu”, jawab malaikat.

Muttaqi agak gemetaran mendengar rencana malaikat Izrail tak berubah. Ia berusaha tenang, berharap kertas data tentang identitas dirinya yang diambil bukan atas namanya.

“Pak Muttaqi, betulkan namamu ?”, tanya malaikat.

“Benar tuan”, kata Mutaqqi heran, mengapa malaikat ini tahu namanya, bukankah ia belum mengenalkan diri. Ia lupa jika malaikat itu jauh lebih tahu segalanya tentang manusia, perbuatannya bahkan relung paling dalam di hatinya, termasuk seorang Mattaqi.

“Muttaqi, terima kasih kamu sudah berbuat baik memberi kopi dan berjasa membangunkanku sehingga aku dapat melaksanakan tugas Allah SWT”, kata malaikat.

“Atas kebaikanmu itu, maka orang yang akan aku cabut nyawanya bukan kertas yang paling atas tetapi saya urut dari paling bawah”, kata malaikat.

Mendengar penjelasan malaikat Izrail itu, Mattaqi sangat terkejut, degup jantung berdetak hebat, tubuhnya bergetar hebat, tubuhnya lunglai seraya berucap ”innalillahi wa inna ilaihi rajiun”.

Kisah diatas memberi pelajaran berharga bahwa malaikat Izrail ketika datang membawa tugasnya kepada seseorang tak lagi harus bertamu sebagaimana yang pernah dialami Nabi Musa ketika hendak dicabut nyawanya tetapi sesuai dasar hukum azali Allah swt dalam firman-Nya surat al A’raf ayat 34:

وَلِكُلِّ اُمَّةٍ اَجَلٌۚ فَاِذَا جَاۤءَ اَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُوْنَ سَاعَةً وَّلَا يَسْتَقْدِمُوْنَ

Artinya:

“Setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Jika ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan sesaat pun dan tidak dapat (pula) meminta percepatan”

 

 

 

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Guru / Asatidz

Kepala Madrasah

Lihat semua karya Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd →

Apresiasi & Komentar 0

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama mengapresiasi karya ini!