RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Cerpen Karya Santri / Siswa

Hanya Sebuah Fatamorgana

ZIDNA NAILUL IZZA
ZIDNA NAILUL IZZA Santri & Siswa MAN 2
14 September 2026 8 dibaca 0 disukai 1 komentar

HANYA SEBUAH FATAMORGANA

Karya: Zidna Nailul Izza

Senja di pantai Selatan selalu tampak seperti lukisan yang belum selesai—langit berwarna jingga keemasan, burung camar melintas pelan, dan ombak menepuk lembut pasir putih yang basah. Di sana, di antara desir angin dan aroma asin laut, Nara duduk di atas batu karang yang sama, tempat ia menunggu setiap sore sejak tiga tahun terakhir.

Tangannya menggenggam cangkir kopi yang sudah dingin. Matanya menatap jauh ke horizon, di mana laut seolah bertemu dengan langit—garis yang tidak pernah nyata, seperti harapan yang tak pernah sampai.

“Masih suka menatap laut sendirian?” Suara itu datang tiba-tiba, lembut tapi jelas.

Nara menoleh. Hatinya bergetar. “Raka...?” suaranya gemetar..

Laki-laki itu tersenyum, langkahnya ringan, rambutnya sedikit berantakan tertiup angin. Ia masih sama seperti dulu — dengan kemeja putih sederhana dan tatapan mata yang hangat.

“Sudah lama, ya,” katanya. “Tiga tahun... atau mungkin lebih?”

Nara menelan ludah, mencoba menahan air mata. “Aku pikir... aku tak akan pernah melihatmu lagi.”

Raka duduk di sampingnya. “Tapi aku di sini sekarang.”

“Kenapa kau pergi dulu tanpa berpamitan?” tanya Nara lirih. “Kau tahu berapa lama aku menunggumu?”

Raka menunduk. “Kadang... pergi adalah satu-satunya cara agar orang yang kita cintai bisa tetap kuat.”

Nara tersenyum getir. “Kau pikir aku kuat setelah kau pergi?”

Raka tidak menjawab. Ia hanya menatap laut yang mulai bergelombang. Senja perlahan menua di cakrawala. Setelah lama diam, Nara kembali bersuara.

 “Kau tahu, aku sering datang ke sini. Setiap sore. Duduk di batu ini, menunggu sampai matahari hilang. Aku berharap suatu saat kau muncul dari jalan setapak itu... seperti sekarang.

Raka menoleh, menatap wajah Nara dengan mata yang sendu. “Dan kalau aku benar-benar datang, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan memelukmu,” jawab Nara tanpa ragu. “Karena aku tak ingin kehilanganmu lagi.”

Raka tersenyum. Tapi ada sesuatu di balik senyum itu — sesuatu yang dingin dan jauh. Ia mengulurkan tangannya, menyentuh jari Nara.

Dingin. Begitu dingin.

Nara tertegun. “Tanganmu... dingin sekali.”

Raka hanya menatap laut. “Kau tahu, terkadang, yang datang bukanlah mereka yang hidup, tapi mereka yang ingin berpamitan sekali lagi.”

Nara menatapnya, matanya membesar. “Apa maksudmu?”

Raka berdiri perlahan, membiarkan angin meniup rambutnya. “Aku tak pernah benar-benar pergi. Tapi aku juga tak bisa kembali. Aku cuma... singgah sebentar.”

“Tidak...” suara Nara mulai bergetar. “Jangan bicara seperti itu. Kau nyata. Kau di sini!”

Tapi Raka hanya tersenyum. “Kau harus berhenti menunggu, Nara. Aku ingin kau bahagia... tanpaku.”

“Raka! Jangan pergi!” teriak Nara. Ia bangkit, mencoba meraih tangan Raka. Tapi yang diraihnya hanya udara kosong.

Dalam sekejap, sosok itu memudar, seperti kabut yang disapu angin. Dan Nara berdiri sendiri di bawah langit senja yang mulai gelap. Air matanya jatuh, bercampur dengan percikan ombak yang mengenai kakinya. Ia menatap batu tempat Raka tadi duduk — kosong.

Lalu matanya menangkap sesuatu di pasir. Sebuah kalung kecil berbentuk jangkar milik Raka yang dulu ia sematkan di lehernya sebelum laki-laki itu pergi berlayar.

Nara berlutut, menggenggam kalung itu erat-erat. Napasnya tersengal.

Hatinya tahu, sekarang ia tak sedang bermimpi. Raka telah tiada sejak tiga tahun lalu — kapal yang membawanya pulang dari laut tenggelam dalam badai. Semua orang menyerah mencarinya, kecuali Nara.

Dan mungkin... hari ini, ia benar-benar datang hanya untuk berpamitan..Senja pun habis, pantai sunyi. Nara menatap laut sekali lagi, dan berbisik lirih,

“Selamat jalan, Raka... jika kau hanyalah fatamorgana, biarlah aku tetap menatapmu dari jauh—meski tahu, aku takkan pernah bisa menyentuhmu lagi.”

Ombak menjawab dengan desis lembut, seperti ucapan selamat tinggal dari laut untuk cinta yang tak sempat pulang.

 

ZIDNA NAILUL IZZA

ZIDNA NAILUL IZZA

Santri / Siswa

SISWI KELAS XII LITERASI

Lihat semua karya ZIDNA NAILUL IZZA →

Apresiasi & Komentar 1

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru • 14 Sep 2026, 13:19

tulisanmu hidup, bagus dan enak dibaca.Lanjutkan menulis