Bau minyak kayu putih dan samar aroma obat-obatan menyambut Hendra begitu ia membuka pintu rumah. Di kamar depan, terdengar batuk kecil dari Ibu yang sudah dua minggu terbaring karena penyempitan pembuluh darah dan paru-paru yang melemah.
Hendra melangkah ragu ke dapur. Di sana, Siska—istrinya—sedang mencuci piring dengan gerakan yang agak cepat, menandakan ada gumpalan emosi yang ditahan.
"Dek," sapa Hendra pelan.
Siska mematikan keran air, menyapu tangannya dengan kain lap tanpa menoleh. "Mas sudah pulang? Makanan di meja sudah ada. Obat Ibu jam empat tadi sudah kubantu minumkan."
Hendra mendekat, mengelus bahu istrinya. "Makasih ya, Dek. Kamu pasti capek."
Siska menghela napas panjang, lalu berbalik menatap Hendra. Matanya sembab, menahan tumpukan lelah yang terakumulasi bertaut hari.
"Mas," bisik Siska lirih agar tak terdengar ke kamar depan. "Aku bukan nggak mau berbakti sama Ibu. Tapi aku juga manusia. Dari pagi aku ngurus rumah, ngurus anak-anak, dan sekarang full ngerawat Ibu—dari menyuapi sampai membersihkan kotorannya. Mas kerja sampai malam, dan waktu pulang, Mas cuma nanya kondisi Ibu, bukan kondisiku."
Hendra tertegun. Kata-kata itu seperti hantaman pelan tetapi tepat di dada. Selama dua minggu ini, fokusnya memang tersedot sepenuhnya pada kondisi kesehatan Ibunya yang terus menurun. Tanpa sadar, ia menjadikan kehadiran Siska sebagai pelabuhan otomatis—mengharapkan istrinya menanggung beban perawatan harian tanpa pernah benar-benar bertanya: bagaimana kabarmu, Istriku?
"Mas minta maaf, Dek..." suara Hendra bergetar. Ia membawa Siska ke dalam pelukannya. "Mas terlalu panik sama Ibu sampai lupa kalau kamu juga berjuang setengah mati di rumah ini."
Di tengah pelukan itu, pintu kamar depan terdengar berderit. Ibu berdiri bersandar pada bingkai pintu, napasnya agak terengah, memegang tongkat kayunya.
Hendra dan Siska kaget lalu buru-buru mendekat. "Ibu! Kenapa bangun? Harus tidur, Bu," ujar Hendra cemas.
Ibu menatap anak dan menantunya bergantian. Wajah tuanya yang pucat memancarkan rasa bersalah yang mendalam.
"Ibu yang harusnya minta maaf..." kata Ibu pelan, suaranya parau. Ibu meraih tangan Siska, menggenggamnya erat dengan jemarinya yang gemetar dan dingin. "Siska, Nak... maafkan Ibu ya, sudah kerepotan dan menguras tenagamu. Kamu bukan cuma menantu, tapi anak Ibu. Dan Hendra..." Ibu menatap anak laki-lakinya tegas. "Jangan pernah abaikan istrimu. Dia yang menjaga rumah ini tetap berdiri waktu kamu kerja dan waktu Ibu sakit."
Siska tak sanggup lagi menahan air matanya. Ia merengkuh tubuh renta mertuanya itu dengan lembut. "Enggak, Bu... Siska nggak marah sama Ibu. Siska cuma lelah..."
Malam itu, di bawah temaram lampu ruang tengah, sebuah kesadaran baru tercipta. Hendra mengambil alih tugas malam: menyuapi Ibu, menyiapkan kompres, dan membiarkan Siska beristirahat total.
Cinta dalam keluarga bukan tentang memilih siapa yang paling diutamakan antara ibu dan istri. Melainkan tentang bagaimana seorang suami menjadi jembatan yang kokoh—melindungi perasaan istrinya yang berjuang, tanpa sedikit pun mengurangi baktinya pada ibu yang melahirkan.