Menyusuri Musim yang Tak Bertepi
Di bawah naungan senja yang perlahan menggelap, Aris berdiri di ambang pintu rumah tua itu. Angin malam berembus dingin, membawa aroma tanah wetan yang basah usai diguyur hujan sore. Di tangannya, sebuah amplop kelulusan SMA milik Bimo terikat rapi dengan pita merah. Bimo berhasil lulus dengan nilai terbaik di sekolahnya dan menerima beasiswa penuh untuk melanjutkan studi teknik di pulau Jawa.
Aris memandangi Bimo yang sedang sibuk mengemas pakaian ke dalam tas kain usang—tas yang dulu kerap dipakai Aris sewaktu muda. Ada rasa bangga yang meletup hangat di dada Aris, namun di balik itu, bayangan sunyi mulai merayap pelan.
"Paman," panggil Bimo, menghentikan kegiatannya. Ia berjalan mendekati Aris dan memegang kedua tangan pamannya yang kini dipenuhi kapalan dan garis-garis keriput. "Ikutlah dengan Bimo ke kota. Bimo bisa bekerja paruh waktu untuk menyewa kontrakan kecil. Paman tidak perlu lagi bekerja di ladang Pak Karto."
Aris menatap mata anak itu. Mata yang belasan tahun lalu ketakutan di sudut kamar, kini memancarkan keberanian dan ketulusan. Senyum tipis mengembang di bibir Aris.
"Desa ini rumah Paman, Bimo," sahut Aris pelan, suaranya tenang namun mantap. "Tugas Paman di sini adalah memastikan kamu punya sayap untuk terbang tinggi. Kota adalah langitmu, bukan tempat Paman hinggap."
"Tapi Paman sudah mengorbankan seluruh hidup Paman untuk Bimo! Sampai kapan Paman mau terus begini sendirian?" suara Bimo bergetar, menahan tangis yang mendesak keluar.
Aris diam sejenak. Ia teringat masa mudanya yang menguap: surat penerimaan beasiswa seni yang membatu, Ratih yang pergi meninggalkannya, dan sisa tabungan yang direbut kakaknya sendiri. Dulu, ia berpikir bahwa suatu hari nanti, saat Bimo dewasa dan mandiri, pengorbanannya akan genap dan mencapai garis akhir. Ia membayangkan moment di mana ia bisa bernapas lega dan berkata, “Akhirnya, tugasku selesai.”
Namun, berdiri di sini malam ini, Aris akhirnya menyadari kebenaran yang sesungguhnya.
"Bimo," bisik Aris lembut seraya menepuk bahu keponakannya. "Pengorbanan itu bukan perlombaan lari yang punya garis finish. Pengorbanan tidak pernah berakhir, karena cinta yang menjaganya memang tidak punya batas."
Aris menyadari, besok ketika Bimo pergi, pengorbanannya tidak berhenti. Pengorbanan itu hanya berganti rupa—menjadi doa-doa yang dipanjatkan di setiap sujud subuh, menjadi kerinduan yang ditahan dalam kesendirian rumah tua, dan menjadi keikhlasan untuk melepaskan orang yang dicintai pergi jauh mengejar dunianya.
Keesokan harinya, bus antarkota perlahan bergerak meninggalkan terminal desa. Dari balik kaca jendela, Bimo melambaikan tangan dengan air mata meluncur di pipi. Aris berdiri di tepi jalan, membalas lambaian itu dengan senyuman paling hangat yang ia miliki.
Ketika bus itu menghilang di balik tikungan jalan, Aris berbalik dan berjalan pelan kembali menuju desanya. Langkah kakinya mungkin makin berat, rambutnya makin memutih, namun dadanya terasa lapang. Di sepanjang jalan setapak yang sunyi itu, Aris melangkah tanpa penyesalan—menyusuri jalan pengorbanan yang tak pernah ada garis akhirnya, demi kehidupan orang lain yang berhasil ia selamatkan.