KETIKA DUNIA HANYA BISA MENATAP
Oleh Irham Zee
Di panggung dunia yang katanya beradab, manusia kembali mempertontonkan kebiadaban.
Orasi perdamaian lantang terdengar, tetapi rudal tetap melesat di langit memerah.
Amerika terusik mengangkat senjata, Israel menebar bara, Iran berdiri tak mau dihinakan dalam ancaman.
Timur Tengah kembali menjadi lautan amarah, warga sipil jadi sasaran dan korban kemanusiaan.
Siapa yang sebenarnya sedang menang? Ketika anak-anak kehilangan ruang untuk pulang, ketika ibu memeluk tubuh yang tak lagi bernapas, ketika rumah berubah menjadi puing dan debu, tersisa puing bekas reruntuhan.
Wahai para penguasa, dimana hatimu. Apakah kekuasaan membuat nurani binasa? Apakah harga diri sebuah bangsa harus dibayar dengan darah manusia?. Belum cukupkah penderitaan Palestina?, sudah hilangkah kelaparan di Sudan ditengah nafsu membunuh sesama saudara.
Lalu Houthi ikut mengobarkan bara suasana, serangan demi serangan menambah api membara. Ketika fasilitas publik dalam pusaran ancaman, bahkan terbakar.
Timur Tengah kian panas membara, sementara diplomasi kehilangan wibawanya. Setiap peluru yang melesat ke langit udara seolah menampar wajah dunia yang mengaku menjaga perdamaian semesta.
Dan kita?
Kita hanya manusia biasa, menatap layar dengan dada yang terasa sesak. Mendengar dentuman dari negeri yang jauh, seraya berdoa agar perang tak semakin meluas.
Kita tak punya tombol untuk menghentikan rudal, tak punya kuasa membungkam senjata. Tak pula, duduk di meja tempat keputusan dibuat, tetapi ikut menanggung akibat dari amarah yang tak kunjung tamat.
Ingin rasanya menjewer telinga mereka, namun siapa kita?
Ironisnya, perang yang menyala nun disana, mampu menjalar ke dapur rumah kita yang rapuh.
Harga minyak merangkak naik, biaya hidup kian mencekik. Rantai pasokan terganggu, pasar dunia gelisah, dan rakyat kecil kembali menjadi pihak yang paling tercekik.
Selat-selat strategis berubah menjadi kecemasan, jalur energi dibayangi ancaman. Jika minyak tersendat, ekonomi bisa terguncang, dan krisis energi global bukan lagi sekadar bayang-bayang, namun nyata.
Begitu anehnya dunia ini!
Mereka yang menekan pelatuk mungkin tak pernah kekurangan, sedangkan mereka yang tak ikut berperang harus menanggung beban kebutuhan.
Mereka yang memerintahkan serangan, tetap tidur dalam istana, sedangkan rakyat jelata menghitung sisa uang di meja tanah liat.
Inilah ironi terbesar peradaban:
Yang membuat perang hanya segelintir orang, tetapi yang menanggung akibatnya hampir semua manusia. Yang menentukan kapan senjata ditembakkan hanya segelintir penguasa, tetapi yang kehilangan masa depan adalah jutaan manusia.
Lantas, di mana suara Keamanan Dunia? Dengan nama Perserikatan Bangsa-Bangsa. Di mana keberanian hukum global dan nurani bangsa-bangsa? Apakah perdamaian hanya indah dalam meja perundingan?, sementara nyawa manusia sekadar angka dalam pemberitaan.
Jangan biarkan dunia terbiasa dengan kematian. Jangan biarkan perang dianggap pembelaan. Jangan sampai minyak lebih diperhatikan daripada harga sebuah kehidupan.
Minyak dapat digali, ekonomi dapat dibangun kembali, tetapi nyawa yang telah pergi tak akan pernah kembali.
Wahai Amerika, Israel, Iran, Arab Saudi, Yaman dan seluruh pihak yang terlibat, sampai kapan dendam akan terus dirawat? Sampai kapan senjata menjadi jawaban, sementara perdamaian hanya menjadi slogan.
Wahai dunia yang mengaku kuat, jangan hanya pandai mengutuk dan berdebat. Buktikan bahwa kemanusiaan masih punya harga, sebelum api perang membakar harapan kita semua.
Sebab sejarah tak hanya mencatat siapa yang menang, tetapi siapa yang membiarkan kemanusiaan tumbang.
Pada akhirnya, dunia tak kekurangan senjata, dunia tak kekurangan pemimpin yang bicara, dunia tak kekurangan alasan untuk berperang.
Yang kian langka adalah keberanian untuk berdamai, ketulusan untuk mengalah, dan kemauan untuk menghentikan darah sebelum seluruh umat manusia membayar harga dari kesombongan segelintir penguasa.