RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Esai Karya Guru & Asatidz

DAUN KENTUT

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
14 September 2026 5 dibaca 0 disukai 0 komentar

DAUN KENTUT Oleh MOH.IRHAM ZUHDI

Sepintas pikiran sadar orang akan berasumsi bahwa istilah daun kentut membawa pesan jorok dan terbayang akan baunya yang dahsyat mengalahkan wewangian manapun. Daun kentut memiliki nama latin Paederia foetida adalah spesies tumbuhan yang menahun. Sebaran hidupnya mulai dari Nepal, Jepang bahkan mudah ditemukan di Indonesia. Orang Jawa menyebut sembukan atau simbuan. Orang madura menyebut bintaos. Memang bau daun simbuan ini seperti bau kentut sehingga banyak orang tidak menyukai.

Daun kentut ini sangat bermanfaat untuk kesehatan perut, bisa dimakan sebagai sayur atau lalapan. Manfaatnya antara lain obat sakit lambung (maag), gangguan usus, obat disentri, obat sakit mata, sakit telinga, buang air kecil tidak lancar, rematik, serta obat kurap.

Untuk sakit kembung, daun ini mudah digunakan, hanya dililitkan melingkar di perut. Tunggu beberapa saat, maka kentut lanca, kembung kabur.

Penulis tidak bermaksud menjadi ahli gizi yang mengurai kandungan daun kentut yang memang kaya karbohidrat, anti oksidan, vitamin C dan minyak asiri. Tetapi ada sayuran khas yang dihasilkan dari daun kentut, orang jawa menyebut ‘botok’. Bukan bermaksud menghubungkan kepada nama Botok tokoh Pati yang berhasil masuk gedung parlemen bersama gangnya beberapa minggu lalu, membawa misi kerakyatan ‘undang-undang perampasan asset’, memaksa wakil rakyat untuk segera sahkan undang-undang yang ‘menakutkan’ bagi para Oligargi dan dominasi ekonomi (economic domination) Indonesia.

Botok merupakan makanan dari bahan daun kentut yang dibumbui kelapa kolaborasi tempe atau ikan asin. Cita rasanya sungguh enak dimulut pengunyahnya. Tak hanya nikmat dirasa, perut bisa kenyang dan berbagai penyakit lambung bisa sirna, racun berlarian keluar melalui keringat dan anus bentuk gas H2S.

Botok memberi kesan garang tetapi memiliki pesan meringankan beban jika tidak bisa menghilangkan sakit. Bentuknya yang sederhana tanpa polesan jajanan ala korea namun banyak orang berharap dari perannya mampu menyelesaikan permasalahan kemanusiaan.

Kadang kita lupa bahwa penampilan kumuh justru menjadi malaikat yang membela kepentingan umat. Sebaliknya penampilan jas berdasi yang dilumuri minyak wangi papan selebriti bertahtakan gelang mahal bermerek dunia justru menghabiskan harapan rakyat.

Jangan kau kira daging empuk berbahu sedap dengan aroma mengundang selera, tidak saja mengenyangkan perut tetapi kandungan kolesterolnya bisa menjadi ancaman tersembunyi (silent killer) bagi perusakan pembuluh darah perlahan.

Dedaunan yang tak banyak dilirik, sebut lagi daun simbuan atau daun kentut yang dibiarkan “nelangsa’ hidup mandiri tanpa peduli dari manusia justru punya cita rasa menawan dan penyembuh sakit dikala lambung mulai dipenuhi racun.

Hidup memang mainan bahkan tipuan (laibun wa lahwun), maka biasakan bijak kepada diri jangan permanjakan diri. Melihat dari sisi kebaikan kepada orang lain bukan pada penampilan luar namun dengan bahasa hati melihat orang lain pada perilaku baiknya meski tampak compang camping. Bukankah banyak kisah yang marak beredar tentang sosok Nabi Khidir AS berpenampilan tak wajar bahkan menjijikkan datang menjumpai seseorang yang sedang diuji oleh Allah. Tak sedikit yang gagal memahami ujian bertemu Nabi Khidir AS, meski tak banyak ada saja sosok kekasih Allah yang menyadari bahwa ia sedang bersama kekasih Allah Nabi Khidir AS.

Begitulah daun kentut yang lebih dulu tercium bau tak sedapnya dari pada manfaat dibalik penampilan luarnya ternyata memiliki nurani kebaikan gizi, cita rasa dan khasiyat yang tak dimiliki oleh banyak makhluk sejenis maupun ras lain yang dianggap lebih menarik.

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Guru / Asatidz

Kepala Madrasah

Lihat semua karya Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd →

Apresiasi & Komentar 0

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama mengapresiasi karya ini!