RuangKarya MAN 2 Pasuruan
Esai Karya Guru & Asatidz

Kisah Insipiratif: Bangkit dari nestapa

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd
Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd Guru & Tenaga Pendidik MAN 2
08 September 2026 5 dibaca 0 disukai 0 komentar

Kisah Inspiratif: “Bangkit Dari Nestapa”

oleh Moh.Irham Zuhdi

Aku seorang guru berusia 59 Tahun, tinggal disebuah desa kecil dan hidup bersama keluarga rukun dan damai. Boleh dikata hidup kami penuh kebahagiaan sejak kamimenikah, meskipun tidak bergelimangan harta. Mungkin saat ini aku berada di puncak karir sebagai kepala sekolah.

Suatu hari 9 tahun lalu, tepatnya 2017, peristiwa itu terjadi disaat aku dipanggil oleh pimpinan kantor kementerian. Aku menduga pasti ada kabar gembira, karena sudah banyak beredar, aku bakal ditunjuk sebagai pejabat kepala sekolah. Namun fakta berkata lain. Pimpinan kantor itu memberi kabar, aku gagal dilantik sebagai kepala sekolah karena alasan administrasi dan aku diminta bersabar “legowo”. Sebagai ASN tentu aku tak berani berdebat meskipun aku bisa. Akhirnya aku mengikuti keputusan pimpinan meski dalam hati ini penuh tanda tanya dan membayangkan resiko sosial yang lebih hebat. Akupun pasrah dengan keputusan itu dan kembali mengajar sebagai guru biasa di tengah-tengah simpati sesama guru,  bisa jadi akan ada gunjingan dan cemoohan. Namun aku tak hirau karena pasrah. Kegagalanku menjadi kepala sekolah bukan sesuatu yang harus aku beratkan karena jabatan adalah amanah dan sudah digariskan sebagai takdir Tuhan.

Hidupku kembali berjalan seperti biasa meski kadang terasa sesak jika terlintas bayangan kegagalan itu. Rupanya Allah SWT belum selesai dengan ujian yang harus aku jalani. Di tengah-tengah badai kecil itu tiba-tiba anak lakiku tampan satu-satunya jatuh sakit hingga divonis dokter untuk menjalani operasi usus buntu. Usinya sangat belia 10 tahun, anak manis yang butuh perhatian itu ternyata berakhir hidupnya kembali kepada Sangp pemilik sah ‘Allah’ swt. Anak kesayanganku harus meninggalkan kami untuk selama-lamannya,  disaat azan Subuh berkumandang, 11 jam pasca operasi sesar.  Selamat jalan anakku “Zidan” sayang, Perjuangkan kami dan jemput ayah dan ibumu di surga.

Hari-hari beranjak minggu berganti bulan dan tahun begitu kelam dan pilu, ku rasakan. Semangat hidupku redup sejak peristiwa itu, tak ada lagi gairah, bahkan berkerjapun untuk siapa? dia yang kusayang sudah tiada, “coba bayangkan?”. Namun aku segera sadar bahwa ini ujian besar yang sengaja datang bertubi untuk menguji hamba yang dicinta, insyaallah. Aku berusaha bangkit karena anak-anakku yang lain masih sangat membutuhkan kehadiranku. Mereka memerlukan bimbingan dan perlindungan untuk masa depannya. Sebagai seorang yang sudah banyak mengenyam asam garamnya kehidupan aku tak boleh patah semangat. Semua kejadian, hidup dan mati, gagal dan sukses, susah dan bahagia adalah dua mata kehidupan yang sudah digariskan. Sementara masa depan masih panjang untuk tetap memberikan manfaat kepada orang banyak, dan merajut hari-hari baik untuk kehidupan yang akan datang.

Aku sangat yakin ujian berat ini akan berakhir dengan hikmah yang lebih besar. Butuh kesabaran dan ketabahan tinggi. Untuk menghibur hati yang lara, aku bersepakat dengan istri setia untuk merencanakan perjalanan spiritual, mengadukan semuanya kepada pemilik kehidupan di depan Ka’bah. Rupiah demi rupiah kukumpulkan hingga tahun ke-empat. Alhamdulillah uang itu cukup untuk beribadah umrah bersama istri. Empat tahun dalam penantian adalah masa kerinduan mendalam selama masa berkabung ‘ammulhuzni’. Keputusan umrah adalah tekat yang bulat sebagai perjalanan darat menuju titik meraih kekuatan. Namun Allah begitu sayangnya kepada kami, tatkala travel yang kami ikuti bermasalah dan pimpinannya masuk penjara. Jamaah terancam tidak bisa berangkat umrah padahal paspor sudah di genggaman dan jadwal pemberangkatan tinggal menghitung hari. Yang ditunggupun tak kunjung datang hingga akhirnya kami semua harus kecewa karena gagal umrah, uangpun raib, subhanallah... Gagal umrah menjadi refleksi yang mendalam, meski tahun 2015 kami sudah ke tanah suci.

Gagal ke tanah suci bukan hal yang harus bikin pusing. Aku yakin akan taqdir, dan umrah atau haji adalah panggilan suci. Kebetulan hari-hari itu aku sibuk dengan amanat baru setelah mendapat kepercayaan sebagai kepala sekolah pada tahun 2021. Rencana menjalankan ibadah umrah bersama istri, aku susun kembali hingga pada tahun 2023 dapat menunaikan umrah bahkan dapat mengulang kembali di tahun 2024 untuk mengadukan seluruhnya dan bersimpuh di depan ‘rumah-Nya’ memohon ampunan penguasa alam semesta. Sungguh rencana Allah jauh lebih indah dibanding keinginan manusia, sungguh Allah maha bijak dan pemurah kepada hamba-Nya.


Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd

Guru / Asatidz

Kepala Madrasah

Lihat semua karya Dr.Moh.Irham Zuhdi,S.Pd.,M.Pd →

Apresiasi & Komentar 0

Sampaikan tanggapan positif, ulasan, atau apresiasi santun untuk penulis karya.

Ingin memberikan apresiasi atau tanggapan pada karya ini?

Masuk untuk Berkomentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama mengapresiasi karya ini!